Selasa, 08 Januari 2013

perjalana Hati Afiya


Perjalanan Hati Afiya

“Sufisme Modern”
Untuk laki-laki Bersorban itu….
01 januari 2013
“sejak malam itu aku sadar, bahwa hati ini tak lagi menghendaki kesendirian. tapi saat ini hanya doa yang bisa menyadarkannya bahwa aku selalu menatapnya dalam diam.

hatimu seputih baju yang kau kenakan malam itu.
zee
03 januari 2013
"Sufisme Modern"
ungkapan rasaku untuknya,
tak peduli meski ia menatapku sebelah mata,
namun yang pasti, Tuhan selalu menyuruhku tuk mendoakannya.
Zee
04 januari 2013
jika sang sufi "Rabi'ah aladawiyah" dulu hanya mau bercinta dengan Tuhan, aku tak yakin jika "Sufisme Modern-ku" sekarang akan menafikan cinta manusia lain,. semoga dia tau kalau aku juga manusia, amien.
Zee
            cuplikan rasa seorang gadis yang seperti sedang dihantam gelombang asmara. Betapa diam  tak mampu menenangkan kesendiriannya. Ia bagikan momentum kepedihan laksana harapan itu pada manusia lain yang bisa  mendoakannya. Di hari-hari kesendiriannya itu ia meyakinkan Tuhan bahwa dengan kesungguhan hati ia menginginkan salah satu hamba-NYA. “sang sufisme modern itu pasti akan memadu cinta dengan perempuan sederhana sepertiku” ungkapnya.
            Terpekur dalam kesendirian, adalah moment paling tepat untuk menghayalkannya. Aku akan bercerita pada dunia bahwa malam itu aku berdiri disampingnya. Betapa dingin hujan malam itu tak lagi terasa di jasadku, kebekuan kembali cair saat ia memberikan senyuman termanis pada perempuan paling beruntung disampingnya, subhanallah sekali hamba-MU yang satu ini Tuhan. Bermula dari sebuah percakapan, ia menyebutkan nama terbaiknya, “"Ieshfir  Raihanpanggil saja ieshfie,” sempurna rasanya mendengar suara termerdu dari mulutnya. Sesempurna rasa sakralku padanya malam itu.
            Di malam tahun baru itu semua yang hadir diminta untuk menuliskan mimpi serta cita-cita untuk instansi dan pribadi. Yang nantinya akan diletakkan didalam toples dan secara bersama-sama akan menyaksikan penanaman toples tersebut untuk selanjutnya dibuka di hari pertama tahun 2013 mendatang. Dengan rinci aku menuliskan mimpi-mimpi untuk instansiku yang paling ku cintai. Dan selanjutnya mimpi pribadiku, kutulis dua mimpiku secara berurutan, dan dibaris ketiga aku menyebutkan namanya, 3. “Ieshfie, semoga bisa menjalani hidup dengannya, amien. Kulipat kertas itu dengan penuh penghayatan dan harapan mewujudkannya, ku masukkan dalam toples lalu perlahan mundur dari keramaian malam.
            Jam 00.00, keramaian memadati lapangan, rupanya salah seorang dari mereka memanggilku, dia katakana kalau aku dipanggil pimpinan lembaga, rupanya aku dijadikan perwakilan perempuan yang akan meyaksikan penanaman toples mimpi, setelah ku menoleh sekitar, rupanya ia berjalan mendekatiku, ternyata kita sama-sama menjadi perwakilan saksi untuk menyaksikan penanaman toples mimpi tersebut. Semua orang yang hadir ikut  berdoa, mendoakan harapan masing-masing termasuk juga mendoakan salah satu dari mimpiku mendapatkannya. “semoga mimpi kita terwujud” tuturnya. Dengan segera dan penuh khidmat aku menjawab “Amien”.
            Terkadang aku berpikir, akankah dia juga akan mengamini jikalau tahu salah satu dari doaku adalah mengharapkannya???? Betapa merindu, deru syahdu kurasa dalam kalbu.
            Selang beberapa hari, temenku iseng bertanya, “ bagaimana dengan sufisme modernmu?”. Aku terdiam, tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang aku justru menjadi orang paling bodoh tuk menjawabnya. “ tak ada keberanian untuk mengatakan padanya” “Harus menunggu berapa lama lagi?” Akupun tak tau lagi jawaban yang pas untuknya. Aku hanya sebatas menggelengkan kepala, sungguh terlalu. saking tak sanggup menahan lamanya rentan waktu.
05 januari 2013
Mereka selalu berkata, " Baru berpapasan dengannya"
tak pernah peduli, bahwa aku juga menantinya.
Haruskah aku menjadi sufisme agar bisa menjumpaimu dalam satu jalan Tuhan yang sama???
Zee
            Tak pernah kujumpai kau berada di lorong lain selain koridor Tuhan. Betapa sulitnya ku temukanmu dalam terik mentari yang begitu menyengat. Apakah seorang sufi selalu merasakan dingin disaat orang lain kepanasan, rasanya jika aku harus berubah menjadi sufistik, aku hidup bagai pungguk mengimpikan bulan. Terlalau sempurna jika aku harus selalau berbicara sorga. Tapi seperti kata Tuhan, aku harus menjaga hati ini, dari segala dosa, paling tidak sebagai wujud ke-sufi-an yang kumiliki. Tanpa harus menjadi orang lain demi cinta.
            Sekali lagi kusebut namamu “Ieshfir Raihan, betapa namamu mewakili jasadmu tuk sekedar memberikan senyuman termanismu pada calon penghuni sorga ini, amien.
bersamamu adalah sungguh harapku.

Doaku untukmu, meski kau mungkin dengan-NYA
Zee- Ieshfie&Afiya. Hf
Untuk Nama hanya sekedar fiktif.

3 komentar:

  1. kerinduanmu yang menggelayut tak bertepi. akankah menemui titik akhir yang pasti.semoga saja!! kawan :)

    untuk nama yang kau anggap samar. kau anggap topeng kau coba selimuti dengan rentetan celotehmu.
    mungkinkah fiktif yang bernadi kenyataan?.
    ataukah salah yang berdenyut kebenaran?.

    BalasHapus
  2. terlalu sulit bagi manusia biasa untuk dapat mengerti dan menjalani Cinta ......
    tapi yang pasti, perkawinan dengan Cinta akan berlangsung selamnya .. karna CINTA itu HAKIKI.....

    BalasHapus
  3. fiktif yang bernadi kenyataan,
    ataukah salah yang berdenyut kebenaran???
    hal itulah yang tak mampu ku terjemahkan, bahkan tuk q bahasakan.
    mungkin hanya bahasa Tuhan yang bisa menafsirkan semua.
    kemana arah mata angin itu membawa, semoga terbaik.
    karena cinta itu hakiki kata amien.

    BalasHapus