Rabu, 09 Januari 2013

Mulai Meresensi Afiya


(Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis)

Oleh              : Afiyatun Hafidh
Judul             : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis          :Rizal Mumazziq Dkk
Penerbit        : Mizan
Tebal             :
Tahun terbit  :
”scripta manent verba volant , yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin” (The general person, language of literature. Hlm.150)
            Tuhan mengawali kalamnya yang memukau dengan satu lafadz, “Nun”, kemudian dilanjutkan dengan lafadz Alqalamu, yang sebelumnya didahului dengan huruf qasam “Wawu”(sumpah). Dengan penyematan  huruf wawu merupakan nilai eksentis yang dirahasiakan tuhan betapa qalam, sebagai kinayah dari menulis adalah hal yang diagungkan. Bahkan bisa dikata menulis adalah suatu proses yang berarti dan  penting, sehingga qalam dijadikan salah satu nama surat dalam alquran. Karena dengan tulisan, kita aka menjadi sosok pribadi unggul, berbeda dan selalu dikenal oleh sejarah, layaknya firman Tuhan tersebut.
            Inilah mengapa Claude Levi-Strauss, seorang antropologi prancis, pernah menyatakan  bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan; karena dengan menulis disitu kita BERUSAHA. Mematuk ide, menangkap imajinasi dan inspirasi liar kemudian membungkusnya, menuliskannya menjadi karya yang utuh persembahan dalam perjalanan sejarah.
            Tuhan telah menyediakan serangkaian bahannya, kata, ide dan bahasa. Hanya saja semua ini menjadi tak berarti jika kita tidak merangkainya menjadi kalimat dengan diksi yang indah dan utuh. Tuhan juga menghadirkan ide lewat malamnya yang dingin nan suci sebagai wujud tadabbur, pun juga melalui pagi yang sejuk nan cerah untuk berpikir. Lalu pantaskah kita sebagai insan Ulil Albab masih tidak mau berproses dengan menulis....???
            Ide harus diburu bukan ditunggu, dari itulah tulisan ini ada, mengajarkan bahwa dengan diam semuanya akan bungkam, tetapi dengan tulisan yang ditebar dimana-mana, akan menajadikan ilmu pengetahuan khususnya mengenai islam akan tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Amien.  Lahirlah statement baru bahwa jihad, syahid tak harus berkaitan dengan kematian, tidak perlu lagi tumpahan darah orang muslim berceceran dimana-mana, karena hanya cukup dengan menuangkan ide lawat tulisan sama halnya dengan telah menancapkan gas pertama untuk memberikan pencerahan.  
             Buku ini juga mengajarkan bahwa menulis tidak hanya mengalir dari kaum priyayi, bangsawan, orang-orang bergengsi, pintar dan gaul, tetapi justru santri- yang konon katanya tidak gaul dan kuper (kurang pergaulan)- telah jauh lebih mantap menancapkan gas dan telah membuktikan bahwa mereka mampu memberi warna sekligus pencerahan dalam dunia kepenulisan. Hal itu luar biasa!!!
            Buku ini berisi tentang kisah para santri dengan lika liku perjalanan serta terjalnya perjuangan mereka didalam memperoleh satu karya “Tulisan”. Sebut saja Ahmad Khotib, seorang santri di daerah madura yang memiliki komitmen serta cita-cit tinggi demi menelorkan sebuah karya. Ia berkomitment untuk menghasilkan dua karya dalm sehari, hingga akhirnya iapun jatuh sakit dan tidak mampu lagi bertahan, akan tetapi dia tetap bersikokoh dengan statement “Berjuang Hingga Berdarah-darah”, bahkan saat ini ia telah mampu mencipta kebanggaan di ranah nasional. Pun dengan para penulis lainnya seperti Rizal Mumazziq, Suhaidi RB, dkk lengkap dengan pengalaman hidupnya masing-masing.
            “Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis” benar-benar menjadi buku inspiratif  bagi para jiwa penulis pemula, dengan berbagai kisah didalamnya, menyadarkan para penulis pemula bahwa siapapun berhak untuk menebarkan ilmu dan ide-ide kreatifnya untuk bangsa, agama serta orang lain. memang butuh perjuangan untuk menjdi orang sukses, tapi ada satu kalimat yang harus di garisbawahi, bahwa tidak pernah ada perjuangan yang berujung pada kesia-siaan. Sudah merupakan suatu keharusan bagi seorang calon pemenang  sukses untuk setia pada proses. Bahkan untuk hari ini dan selanjutanya, kaum bersarung (santri) akan menjadi pelopor perubahan dengan tulisan-tulisan yang akan mereka telorkan, tentu dengan semangat perjuangan dan penuh dobrakan perubahan, dan  menjadikan buku ini menjadi refrensi bahan bacaan. Benar-benar menakjubkan dan memukau.
            Seperti kata Rizal Mumazziq, hanya ada satu cara untu mewujudkan mimpi menjadi nyata, menjadi penebar ilu lewat jasa dan karya, yaitu “ Do It Now!!! Tuliskan semua apa yang ada dalam pikiranmu, jangan pernah menjadi korektor untuk tulisanmu sendiri!!! Selamat menulis.


Afiyatun hafidh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar