(Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis)
Oleh : Afiyatun
Hafidh
Judul : Jalan
Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis :Rizal
Mumazziq Dkk
Penerbit : Mizan
Tebal :
Tahun terbit :
”scripta manent verba volant , yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu
bersama angin” (The general person, language of literature. Hlm.150)
Tuhan mengawali
kalamnya yang memukau dengan satu lafadz, “Nun”, kemudian dilanjutkan dengan lafadz
Alqalamu, yang sebelumnya didahului dengan huruf qasam “Wawu”(sumpah). Dengan
penyematan huruf wawu merupakan nilai
eksentis yang dirahasiakan tuhan betapa qalam, sebagai kinayah dari menulis
adalah hal yang diagungkan. Bahkan bisa dikata menulis adalah suatu proses yang
berarti dan penting, sehingga qalam
dijadikan salah satu nama surat dalam alquran. Karena dengan tulisan, kita aka
menjadi sosok pribadi unggul, berbeda dan selalu dikenal oleh sejarah, layaknya
firman Tuhan tersebut.
Inilah mengapa
Claude Levi-Strauss, seorang antropologi prancis, pernah menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang
pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk
mengatur masa sekarang dan masa depan; karena dengan menulis disitu kita
BERUSAHA. Mematuk ide, menangkap imajinasi dan inspirasi liar kemudian
membungkusnya, menuliskannya menjadi karya yang utuh persembahan dalam
perjalanan sejarah.
Tuhan telah
menyediakan serangkaian bahannya, kata, ide dan bahasa. Hanya saja semua ini
menjadi tak berarti jika kita tidak merangkainya menjadi kalimat dengan diksi
yang indah dan utuh. Tuhan juga menghadirkan ide lewat malamnya yang dingin nan
suci sebagai wujud tadabbur, pun juga melalui pagi yang sejuk nan cerah untuk
berpikir. Lalu pantaskah kita sebagai insan Ulil Albab masih tidak mau
berproses dengan menulis....???
Ide harus diburu
bukan ditunggu, dari itulah tulisan ini ada, mengajarkan bahwa dengan diam
semuanya akan bungkam, tetapi dengan tulisan yang ditebar dimana-mana, akan menajadikan
ilmu pengetahuan khususnya mengenai islam akan tersebar luas di seluruh penjuru
dunia. Amien. Lahirlah statement baru
bahwa jihad, syahid tak harus berkaitan dengan kematian, tidak perlu lagi
tumpahan darah orang muslim berceceran dimana-mana, karena hanya cukup dengan
menuangkan ide lawat tulisan sama halnya dengan telah menancapkan gas pertama
untuk memberikan pencerahan.
Buku ini juga mengajarkan bahwa menulis tidak
hanya mengalir dari kaum priyayi, bangsawan, orang-orang bergengsi, pintar dan
gaul, tetapi justru santri- yang konon katanya tidak gaul dan kuper (kurang
pergaulan)- telah jauh lebih mantap menancapkan gas dan telah membuktikan bahwa
mereka mampu memberi warna sekligus pencerahan dalam dunia kepenulisan. Hal itu
luar biasa!!!
Buku ini berisi
tentang kisah para santri dengan lika liku perjalanan serta terjalnya
perjuangan mereka didalam memperoleh satu karya “Tulisan”. Sebut saja Ahmad
Khotib, seorang santri di daerah madura yang memiliki komitmen serta cita-cit
tinggi demi menelorkan sebuah karya. Ia berkomitment untuk menghasilkan dua
karya dalm sehari, hingga akhirnya iapun jatuh sakit dan tidak mampu lagi
bertahan, akan tetapi dia tetap bersikokoh dengan statement “Berjuang Hingga
Berdarah-darah”, bahkan saat ini ia telah mampu mencipta kebanggaan di ranah
nasional. Pun dengan para penulis lainnya seperti Rizal Mumazziq, Suhaidi RB,
dkk lengkap dengan pengalaman hidupnya masing-masing.
“Jalan Terjal
Santri Menjadi Penulis” benar-benar menjadi buku inspiratif bagi para jiwa penulis pemula, dengan
berbagai kisah didalamnya, menyadarkan para penulis pemula bahwa siapapun
berhak untuk menebarkan ilmu dan ide-ide kreatifnya untuk bangsa, agama serta
orang lain. memang butuh perjuangan untuk menjdi orang sukses, tapi ada satu kalimat
yang harus di garisbawahi, bahwa tidak pernah ada perjuangan yang berujung pada
kesia-siaan. Sudah merupakan suatu keharusan bagi seorang calon pemenang sukses untuk setia pada proses. Bahkan untuk
hari ini dan selanjutanya, kaum bersarung (santri) akan menjadi pelopor
perubahan dengan tulisan-tulisan yang akan mereka telorkan, tentu dengan
semangat perjuangan dan penuh dobrakan perubahan, dan menjadikan buku ini menjadi refrensi bahan
bacaan. Benar-benar menakjubkan dan memukau.
Seperti kata Rizal
Mumazziq, hanya ada satu cara untu mewujudkan mimpi menjadi nyata, menjadi
penebar ilu lewat jasa dan karya, yaitu “ Do It Now!!! Tuliskan semua apa yang
ada dalam pikiranmu, jangan pernah menjadi korektor untuk tulisanmu sendiri!!!
Selamat menulis.
Afiyatun hafidh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar