Kamis, 09 Mei 2013

Akupun Mendoakanmu...


DOA KEPERGIAN....
“Ku lepas semua yang ku inginkan,
tak akan ku ulangi ... maafkan jika kau kusayangi dan bila ku menanti,
pernah kah engkau coba mengerti, lihat aq disini, mungkinkah jika aq bermimpi,
salahkah tuk menanti, tak kan lelah...”.
            Sayup sayup lagu itu  terdengar di tengah kesepian mencekam sore itu, bersama dengan tetesan air hujan, gadis itu seakan berlomba membasahi bumi dengan airmatanya. Tak mudah memaknai segala rasa yang mungkin mengoyak pertahanan gadis yang mematung kala itu. Tapi air matanya seakan bercerita, “bahwa ia sedang dilanda derita, ia seperti sedang menunggu, berharap ada orang datang ditengah kekalutan hati yang tak dipahami hujan, lalu lalang para pengendara motor yang semakin menjauh, serta egoisme petir yang saling bersahutan dengan bahasa yang tak dipahami orang lain”.
            Hampir setiap sore mulut perempuan itu terkatup, dengan mata memerah, ia terpekur sendirian sambil sejenak menatap lorong-lorong sunyi disamping bangunan angker berlantai lima itu, tapi pada detik yang lain, berulangkali ia menatap jam tangannya, seakan semakin resah, gelisah dikala jam itu menunjukkan akan segera berganti hari, air matanya semakin deras mengalir. Tetapi sejenak ia tertegun mendengar derap langkah perempuan sebayanya menghampiri,  “aku melihatmu sedaritadi hanya menangis? Ada yang mengganggu pikiranmu?” “aku tak mampu mengutarakannya dengan ucap, aku tak sanggup...”  perempuan itu berlari dengan begitu cepat, hingga sekejap ia sudah menghilang dari pandangan. Perempuan sebayanya itu menjadi tak mengerti, “apa yang telah membuat risau perempuan itu?” ia menggumam.
            Rupanya perempuan itu tak hanya sebatas berdiam, menangis tanpa henti, tetapi ternyata ia mencurahkan semua isi hatinya pada seonggok kertas yang tertinggal tadi saat ia berlari. Perempuan sebayanya itu menjadi mengerti, mengapa ia tadi mengatakan tak mampu jika harus mengutarakannya dengan ucap, karena baginya hanya kata yang mampu mengerti isi hatinya, tanpa “kata” itu harus berkomentar dengan apa yang dia ceritakan.
            Air mata perempuan sebayanya itu menetes semakin deras, setelah perlahan membuka dan membaca dari apa yang perempuan itu ceritakan disana...

01 januari 2013
Awal aku membuka mata uuntuk dunia, aku melihatmu berdiri disana dengan seulas senyum yang tak mungkin aku lupakan untuk hari-hari selanjutnya. Betapa tulus kau berikan sapa padaku, meski mungkin bagimu itu tak ada arti.
01 februari 2013
Sejak itu aku tak pernah lagi tahu kabar keberadaanmu, tak pernah lagi bertatap bahkan walau hanya sekedar melihatmu berjalan di seberang sana. Banyak hal yang aku alami sejak itu, karena aku tahu kamu adalah sosok panutan disana, bahkan kau merupakan pribadi mulia dengan selalu menjaga ayat-ayat Tuhan. Aku mulai sedkit memperbaiki sikapku yang semrawutan menjadi lebih sopan, mulai selalu membaca, merenungi dan mengingat lafadz Tuhan persis seperti rutinitasmu setiap hari. Bahkan pernah suatu hari aku tertawa pada diriku sendiri karena temanku dengan sengaja bertanya, ini pribadimu? Kenapa kau mendadak berubah menjadi seperti sufisme modern?. Papar orang-orang terdekatku.  Lalu aku jawab juga dengan seperti tak percaya “ aku ikhlas dan lebih nyaman seperti ini”
04 maret 2013
Aku hanya bisa menanyakanmu lewat teman dekatmu, bahkan yang kutahu, kau tak pernah mengerti bahwa aku selalu berdiri disini. Aku mulai jenuh dengan keadaanku, hampir setiap hari aku hanya selalu mampu mengingat postur tubuhmu dari sudut belakang, betapa hanya sebatas punggung, karena sudah dalam waktu yang cukup lama aku tak pernah lagi berpapasan denganmu. Kau tahu, aku malu pada Tuhan, karena ingatanku lebih kuat tentangmu dari pada NYA. Tapi sejenak aku menjadi tersadar dengan ungkapan senada yang pernah disampaikan sang motivator ternama itu “ jika engkau tegas menghormati dirimu, Tuhan akan memantaskan jodoh yang menghormatimu”, ternyata sakit ketika aku harus menyiksa diriku tanpa dia tahu kalau aku selalu menganggapnya berarti. Bahkan mungkin aku yakin kalau sedetikpun dia tak pernah mengingatku. Hingga aku bertumpu pada satu ujung kesadaran, kalau aku akan menitipkan namamu pada Tuhan saja, aku akan lebih menghormatiku dengan tidak selalu memikirkanmu tanpa izinmu, hingga nanti biarlah Tuhan yang menentukan siapa orang yang selalu menghormatiku.
05 april 2013
Selama ini aku tetap bertahan, dengan tanpa ada perubahan karena aku hanya mampu memendam rasa. Kau tahu seperti apa rasanya? Sangat sakit, sakit sekali sampai mencapai titik kulminasi “hatiku lumpuh dan seperti sudah tidak lagi merasakan sakit”. Aku tahu ceritaku ini memang bukan berharap untuk dikasihani, tapi aku hanya meminta agar kau menganggapku ada disini, disisi.
Hari hariku di bulan ini, menjadi selalu dihantui rasa tak percaya, karena aku mendengar kabar kalau kau akan pergi untuk waktu yang lama. Lebih sakit lagi ketika aku harus mendengarnya dari orang lain, sungguh kau tak punya inisiatif untuk menghindari sikap dari tidak membuat orang lain terluka.
01 mei 2013
Yah kau memang hebat, kau mampu membuat takjub orang disekitarmu. Tapi kau tak pernah membuatku tertawa karena aku mengagumimu. Semakin hari aku semakin risau, karena ternyata pergantian hari itu semakin dekat mengantarkanmu pada ujung hari keberangkatanmu. Lagi-lagi aku harus sakit, sakit, sakit untuk yang kesekian kalinya.. hampir setiap hari aku menangis, menangisi keadaan yang tak memihak kepadaku. Hanya tinggal menghitung hari keberangkatanmu, hatiku semakin kalut karena aku tak bisa menyampaikan salam terakhir dan melambaikan salam perpisahan untukmu... pilu, membayangkan saja aku tak sanggup, di hari-hari biasanya saja aku tak pernah berpapas denganmu, apalagi ketika dalam waktu yang cukup lama kau berada di negeri jiran, sungguh kau seperti membunuhku secara perlahan, bahkan aku takut dihari kedatanganmu kau tak lagi melihatku menyapamu, karena aku telah terpuruk mati karenamu.
09 mei 2013
Sebentar lagi kau akan pergi, dan tanpa aku menyalamimu, aku berharap angin bisa menyampaikan isi hatiku padamu. Aku hanya bisa menangis, bahkan ketika aku menuliskan doa kepergian ini untukmu:
“Tuhan...
“tangis ini pecah bukan karena aku tak ikhlas melihatmu pergi, tak ikhlas melihatmu singgah di tempat yang lain, melainkan aku menangis karena aku bangga dengan kesuksesanmu.
“banyaklah berdoa, agar apa yang kau harapkan bersamaan dengan kehendak Tuhan. Agar tak sia-sia kau pergi untuk waktu yang cukup lama”
“mungkin doaku memang tidak berarti dalam perjalan hidupmu, tapi aku hanya ingin mengatakan pada Tuhan dan Dunia bahwa aku peduli padamu karena bagiku kau sangat berarti...
“selamat jalan wahai para pencari ilmu Tuhan, semoga dihari kembalimu kau jauh menjadi lebih peka pada dunia. Bahwa disisi lain dunia itu ada aku yang selalu menantimu. SALAM. Aku tunggu kesuksesanmu, karena aku juga bangga berharap bisa memiliki saudara sehebat dirimu. Amien.
10 mei 2013
Aku tau bahwa hari esok aku tak kan bisa melihatmu untuk kurun waktu yang cukup lama setelahnya. Selamat jalan... satu yang harus kamu tahu, aku mengangis menuliskan ini semua, dan aku akan selalu menangis jikalau tahu bahwa dirimu tak lagi mengingatku, AKU MENUNGGUMU KEMBALI.
THE END....
(Afiya-Hafidh
* wanita tangguh yang berharap besar padamu,
J