Senin, 31 Maret 2014

Terlepas Selimut Ke-Sufi.an


Terbalut Kafan berselimut perih
“Membuat sebuah lobang upaya menguburmu adalah impian terbesar dalam sisa perjalanan hari ini. Membalutmu dengan kain kafan suci ibarat khalayak ramai mengantarmu pada peraduan terakhir. Memandikanmu dengan air kembang tujuh rupa, berharap kau menghilang bersama lenyapnya bau bangkai jasadmu. Memahami bahwa kau tak lagi indah dan hanya pantas bersanding dengan gundukan tanah membeku itu, maaf jika dirasa keikhlasan terpancar dari wajahku demi menggiringmu lenyap bersama waktu”.
 Aku ingin membunuhmu, memandikan, membalut serta menguburmu sebelum kau ku sholati dengan kesucian hati yang tak tertandingi. Meski bukan jaminan dalam setiap malamnya akan kusampaikan kalimat thoyyibah demi menenangkan adamu. Bukan dendam, tapi aku hanya ingin membuat tak tenang adamu, karena telah menjadikanku gelisah dengan sejuta harap tanpa kepastian.
***
Setahun Berjalan nan berlalu...
Perih menjalar menggerogoti setiap relung anggota tubuhku. Meniadakan pijakan dasarku akan keyakinan bahwa kau layak tuk ku pertahankan. Dulu aku mampu mendeskripsikan keberadaanmu dengan sangat baik, tapi sekarang tak sedikitpun aku mampu menjamah adamu dalam setiap kali putaran arah jarum jam. Seandainya Tuhan memahami akan kehendak hati ini untuk membuatmu  layaknya mumi yang tak lagi mampu mempermainkan hati lainnya, maka tak kan kusiakan waktu itu untuk membuatmu tak lagi angkuh berlenggak lenggok di panggung kesedihanku ini.
Pengakuan ini yang hendak aku sampaikan pada Tuhan,  padamu serta pada lainnya. Tuhan mengutusmu layaknya para nabi yang diberikan kelebihan olehnya, hanya saja kekuranganmu karena kau tak disambangi jibril serta Terlalu cepat Tuhan mendeklarasikan Muhammad sebagai penutup para Nabi. Hingga semua manusia berujung pada sebuah pemahaman bahwa kau bukanlah Malaikat, Bidadara, Nabi melainkan Manusia biasa. Tentu bahasa sensasional harus diingat “Sesama Manusia tak boleh saling menghina..”
Ingin rasanya bertanya pada kedalaman hati setiap orang yang menamai dirinya sebagai hamba Tuhan, salahkah perasaan yang diutarakan pada Tuhan akan kehendak hati yang menginginkan seorang sufi dalam hidupnya?, salahkah kerendahan hati ini hingga harus dibalas dengan kesalihan imannya?, kekakuanku dalam menjamu Tuhan dalam setiap ibadah mungkin itu jawabnya.
Disekitarmu sudah sering mengingatkanku bahwa porsiku bukanlah pilihan menumu, jika hal itu diandaikan dengan sesuap nasi. Mungkin kaulah bagian dari hasil pangan berkualitas yang tak layak disandingkan dengan makanan pelengkap layaknya gandum yang membuat kau tak lagi menularkan selera. Aku bukan tak paham, hanya kekebalan hati dari rasa sakit ini yang membuatku tetap bertahan meski perih mulai menggerogoti...
Sufisme hanya layak disandingkan dengan dengan sufisme lainnya. Sayangnya aku tak sanggup menjadi Rabiah Al-adawiyah, hingga pagi itu mentari membagunkanku dari tidur panjang yang penuh dengan mimpi khayalan. Tuhan kenapa kau biarkan aku bermimpi jika saat terbangun semua akan sirna bersama dengan munculnya sinar mentari yang menyilaukan semuanya....
Kesalihan amaliah yang kini mengantarku pada sebuah penyesalan karena aku tak mampu menjamah Tuhan hingga kaupun tak mampu ku sentuh. Bersedih tentu bukanlah ujung dari kepiluaan yang kurasa selama ini, karena menguburmu adalah rentetan impian dari sejuata kehendak yang kian memuncak tuk terealisasi.
Maaf telah mengharap adamu dalam jurang nista bersamaku..
            Maaf memimpikanmu dalam noktah merah menjijikkan bagimu..
            Maaf telah meminta Tuhan tuk membuatmu me
ngakuiku disini..
            Hari ini menjadi saksi bisu atas sabda Tuhan yang telah memantapkan hatiku untuk menafikan adamu, telah menjadi inspirasi untuk lahirnya beberapa tulisan dalam setahun berjalan ini. Terima kasih dan maafkan kelancangan perempuan tak patut di matamu ini. ini tulisan terakhirku tentangmu, akan ku kubur dan ku balut sepiku bersama ketiadaan jasadmu.
#Afiyaa Hafidh, Zee-One perjalanan hidupku menatapmu.

Rabu, 01 Januari 2014

UNTUK EMAKKU DISANA




TERUNTUK PEREMPUAN TANGGUH - KU *
Getar getir rasaku saat hendak menuliskan surat ini untukmu emakkku, penuh harap buah hatimu yang sedang dalam rantau ini bisa menyelipkan nama diantara deretan desah dan gelisahmu. Menjadi berarti dalam setiap pijakan dan tumpuanmu kedua setelah Tuhan. Karena keberadaanku yang selalu kau anggap ada dikala kau butuh untuk menyandarkan kepala dan melepas kepenatan. Semoga buah hatimu ini bisa selalu mengerti dan berbakti padamu...
“Emak, Taukah...?”
Saat  menuliskan surat ini, aku sedang dibelenggu keraguan. Ragu memikirkan apakah engkau akan punya waktu untuk membacanya atau tidak, tapi meskipun surat ini akhirnya tak sempat kau sentuh  barang sejenak, doaku pada Tuhan agar kau tetap meyakini bahwa rasa sayang, cinta, hormat dan baktiku tak mengenal perantara dan selalu terpatri sepanjang masa.
Aku tahu sejak pagi buta, saat matahari masih enggan mencumbui alam dengan cahayanya, emak sudah selangkah lebih maju dari siapapun, bergegas menuju pada sepetak tanah  sumber  penghidupan keluarga. Bahkan hingga sinar mentari mulai meninggi serta panasnya terasa kalap membakar setiap orang yang berani berdiri menantang tepat dibawahnya, tak sedikitpun engkau beranjak dari posisi awal, yang jika ditanya orang lain pasti enggan melakukannya. Memikul dua timba besar yang diikatkan pada sebilah bambu dengan menggunakan tali,  sembari diletakkan pada bagian antara pundak dan leher. Sampai  lehermu memerah kau tetap saja tak bergeming dengan keadaan yang menindasmu, dengan sesekali kau menggeser pikulan bambu itu ke pundak kanan dan kiri demi mencari posisi yang tak nyeri,  merahnya lehermu pun senada dengan irisan sembilu yang kian menyayat hati anakmu yang pongah ini mak.
Menjelang  matahari mulai berganti bulan dengan tanda merah saga di langit barat, kau masih tetap berkutat dengan kesibukan yang melelahkan itu, hingga kuyakini kau tak akan sempat menjamah suara hatiku ini meski di malam hari, karena istirahatmu pun menanti.
Aku anakmu mak...
Merasa sangat berdosa saat melihat kulitmu sudah berubah cokelat hampir hitam karena terbakar matahari. Tanganmu serasa kasar saat dijabat tetapi tetap lembut untuk sebuah belaian kasih sayang pada anakmu ini. Tumit kakimu mulai pecah nan dihiasi luka menganga, akibat dari kau yang tidak pernah memakai alas kaki saat seharian menyirami bibit sumber penghidupan keluarga.
Ingatkah mak, saat sesekali engkau pernah bertanya, “Nak, apakah kamu malu dengan profesi emakmu yang terlahir sebagai seorang petani yang tak layak jika dikenalkan pada ibu dari teman-temanmu nanti?, tak pernah terlintas untuk malu mak.
Salahkah? Jika anakmu ingin mengabari bahwa perjuangan dan doamu disana telah membuat buah hatimu ini menjadi perempuan yang jauh lebih tangguh, bahkan mungkin jika dibandingkan dengan perjalananmu saat muda dulu.
Anakmu yang sedang dalam rantau ini ingin mengabarimu kabar baik, bahwa anak kesayanganmu sudah menjadi pemenang. Semoga kabar ini bisa menjadi pengusap peluh yang kian hari semakin membanjiri tubuh kurusmu, dan bisa mencipta senyum serta mewarisi ketangguhan perempuan kuat sepertimu mak.
Aku mulai dari cerita malam itu. Seharian rasa itu membingkai kegelisahan di setiap tapak langkahku. Seharian pula aku belum menerima hantaran nikmat dari suapan manja mulutku kala biasanya. Aku merasakan perutku melilit dengan keperihan yang tiada tara, aku tak ada sepeserpun uang mak. Tapi sejak saat itu aku merasa telah menang, menang dari godaan nafsu bejat untuk mengambil hak orang lain hanya demi sesuap nasi. Meski aku tak punya uang aku tak pernah mencuri mak, dan bagiku itulah hakekat juara yang sesungguhnya. Benar begitu mak? Itu adalah bagian pesan berarti yang selalu kau tanamkan dalam diam nan dalam pada bibit kecil pendobrak perubahan sepertiku, katamu.
Hari itu pula bingung serasa melanda tekad bulatku untuk bisa menapakkan kaki di pelataran pengetahuan nun jauh disana. Tak ada pemicu selain semangat yang pernah emak bisikkan di telinga kananku, karena lagi-lagi uang menjadi pencipta kerisauan dalam setiap tilas langkahku. Pernah sesekali aku bergumam sendiri “Uang bagai Tuhan, tapi Tuhan tak pernah memberiku uang..”. tapi suaramu kala itu bagai suara Tuhan yang mampu mengembalikan hakekat makna adaku dari adamu mak… Dan lagi-lagi aku mendeklarasikan diri bahwa akulah pemenangnya.
Darah juangmu kini mengalir deras dalam setiap hentakan langkah semangatku. Doamu selalu terngiang dalam benakku yang hanya bisa diam saat kau lantunkan seuntai kata penuh makna itu. Kasihmu tergambar jelas dalam setiap tatapan matamu yang syahdu. Dan rasa sayangmu yang tak akan pernah mati meski kegersangan padang pasir mencoba menikammu dari dekat, sedekat detak jantung yang setiap degupnya selalu ku rasakan.
Janjiku padamu emakku, bahwa tak sedetikpun waktuku akan kuberikan pada keadaan nyaman yang memanjakan, yang membuatku  terlena dalam belaian manja pongahnya dunia. Mencoba selalu pada pendirian kuat bahwa dunia luar hanya menawarkan kepalsuan jika tak dijemput dengan semangat kesungguhan yang luar biasa.
Aku tak akan membiarkanmu berderai keringat sendiri mak, membuatmu bekerja banting tulang hanya untuk menunjukkan jiwa tangguh itu pada buah hatimu. Tak kan ku biarkan matahari dengan lancang menjamah kulitmu, karena aku akan terus belajar untuk mencari jalan agar kau tak lagi ditikam panasnya mentari, pun dengan semua anak-anak keturunanmu kelak. Pegang janjiku ini mak.. salam sayang untukmu emakku.


*Nama :Afiyatun Hafidh
Nama pena : Fie Elkaff
Jurusan: Ilmu Hukum
Fakultas : Hukum Universitas Islam Indonesia