TERUNTUK PEREMPUAN TANGGUH - KU *
Getar getir rasaku saat hendak menuliskan surat ini untukmu
emakkku, penuh harap buah hatimu yang sedang dalam rantau ini bisa menyelipkan
nama diantara deretan desah dan gelisahmu. Menjadi berarti dalam setiap pijakan
dan tumpuanmu kedua setelah Tuhan. Karena keberadaanku yang selalu kau anggap
ada dikala kau butuh untuk menyandarkan kepala dan melepas kepenatan. Semoga
buah hatimu ini bisa selalu mengerti dan berbakti padamu...
“Emak, Taukah...?”
Saat menuliskan surat ini,
aku sedang dibelenggu keraguan. Ragu memikirkan apakah engkau akan punya waktu
untuk membacanya atau tidak, tapi meskipun surat ini akhirnya tak sempat kau
sentuh barang sejenak, doaku pada Tuhan
agar kau tetap meyakini bahwa rasa sayang, cinta, hormat dan baktiku tak
mengenal perantara dan selalu terpatri sepanjang masa.
Aku tahu sejak pagi buta, saat matahari masih enggan mencumbui alam
dengan cahayanya, emak sudah selangkah lebih maju dari siapapun, bergegas menuju
pada sepetak tanah sumber penghidupan keluarga. Bahkan hingga sinar
mentari mulai meninggi serta panasnya terasa kalap membakar setiap orang yang
berani berdiri menantang tepat dibawahnya, tak sedikitpun engkau beranjak dari
posisi awal, yang jika ditanya orang lain pasti enggan melakukannya. Memikul
dua timba besar yang diikatkan pada sebilah bambu dengan menggunakan tali, sembari diletakkan pada bagian antara pundak
dan leher. Sampai lehermu memerah kau
tetap saja tak bergeming dengan keadaan yang menindasmu, dengan sesekali kau
menggeser pikulan bambu itu ke pundak kanan dan kiri demi mencari posisi yang
tak nyeri, merahnya lehermu pun senada
dengan irisan sembilu yang kian menyayat hati anakmu yang pongah ini mak.
Menjelang matahari mulai
berganti bulan dengan tanda merah saga di langit barat, kau masih tetap berkutat
dengan kesibukan yang melelahkan itu, hingga kuyakini kau tak akan sempat
menjamah suara hatiku ini meski di malam hari, karena istirahatmu pun menanti.
Aku anakmu mak...
Merasa sangat berdosa saat melihat kulitmu sudah berubah cokelat hampir
hitam karena terbakar matahari. Tanganmu serasa kasar saat dijabat tetapi tetap
lembut untuk sebuah belaian kasih sayang pada anakmu ini. Tumit kakimu mulai
pecah nan dihiasi luka menganga, akibat dari kau yang tidak pernah memakai alas
kaki saat seharian menyirami bibit sumber penghidupan keluarga.
Ingatkah mak, saat sesekali engkau pernah bertanya, “Nak, apakah
kamu malu dengan profesi emakmu yang terlahir sebagai seorang petani yang tak
layak jika dikenalkan pada ibu dari teman-temanmu nanti?, tak pernah terlintas
untuk malu mak.
Salahkah? Jika anakmu ingin mengabari bahwa perjuangan dan doamu
disana telah membuat buah hatimu ini menjadi perempuan yang jauh lebih tangguh,
bahkan mungkin jika dibandingkan dengan perjalananmu saat muda dulu.
Anakmu yang sedang dalam rantau ini ingin mengabarimu kabar baik,
bahwa anak kesayanganmu sudah menjadi pemenang. Semoga kabar ini bisa menjadi
pengusap peluh yang kian hari semakin membanjiri tubuh kurusmu, dan bisa
mencipta senyum serta mewarisi ketangguhan perempuan kuat sepertimu mak.
Aku mulai dari cerita malam itu. Seharian
rasa itu membingkai kegelisahan di setiap tapak langkahku. Seharian pula aku
belum menerima hantaran nikmat dari suapan manja mulutku kala biasanya. Aku
merasakan perutku melilit dengan keperihan yang tiada tara, aku tak ada
sepeserpun uang mak. Tapi sejak saat itu aku merasa telah menang, menang dari
godaan nafsu bejat untuk mengambil hak orang lain hanya demi sesuap nasi. Meski
aku tak punya uang aku tak pernah mencuri mak, dan bagiku itulah hakekat juara
yang sesungguhnya. Benar begitu mak? Itu adalah bagian pesan berarti yang
selalu kau tanamkan dalam diam nan dalam pada bibit kecil pendobrak perubahan
sepertiku, katamu.
Hari itu pula bingung serasa melanda tekad
bulatku untuk bisa menapakkan kaki di pelataran pengetahuan nun jauh disana.
Tak ada pemicu selain semangat yang pernah emak bisikkan di telinga kananku,
karena lagi-lagi uang menjadi pencipta kerisauan dalam setiap tilas langkahku.
Pernah sesekali aku bergumam sendiri “Uang bagai Tuhan, tapi Tuhan tak pernah
memberiku uang..”. tapi suaramu kala itu bagai suara Tuhan yang mampu
mengembalikan hakekat makna adaku dari adamu mak… Dan lagi-lagi aku
mendeklarasikan diri bahwa akulah pemenangnya.
Darah juangmu kini mengalir deras dalam
setiap hentakan langkah semangatku. Doamu selalu terngiang dalam benakku yang
hanya bisa diam saat kau lantunkan seuntai kata penuh makna itu. Kasihmu
tergambar jelas dalam setiap tatapan matamu yang syahdu. Dan rasa sayangmu yang
tak akan pernah mati meski kegersangan padang pasir mencoba menikammu dari
dekat, sedekat detak jantung yang setiap degupnya selalu ku rasakan.
Janjiku padamu emakku, bahwa tak sedetikpun
waktuku akan kuberikan pada keadaan nyaman yang memanjakan, yang membuatku terlena dalam belaian manja pongahnya dunia.
Mencoba selalu pada pendirian kuat bahwa dunia luar hanya menawarkan kepalsuan
jika tak dijemput dengan semangat kesungguhan yang luar biasa.
Aku tak akan membiarkanmu berderai keringat
sendiri mak, membuatmu bekerja banting tulang hanya untuk menunjukkan jiwa
tangguh itu pada buah hatimu. Tak kan ku biarkan matahari dengan lancang
menjamah kulitmu, karena aku akan terus belajar untuk mencari jalan agar kau
tak lagi ditikam panasnya mentari, pun dengan semua anak-anak keturunanmu kelak.
Pegang janjiku ini mak.. salam sayang untukmu emakku.
*Nama :Afiyatun Hafidh
Nama pena : Fie Elkaff
Jurusan: Ilmu Hukum
Fakultas : Hukum Universitas Islam
Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar