Senin, 17 Juni 2013

Hidup Butuh Perubahan


HARI RAYA QURBAN;
 AJAKAN MEMBUNUH SIFAT KEBINATANGAN KITA


لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يىناله التقوئ منكم كذالك سخرها لكم لتكبروا الله علئ ما هدئكم وبشر المحسنين (الحج)37 
Artinya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadanya adalah ketakwaan kamu, demikianlah Allah menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS: Alhajj:37)  
Prolog
ن والقلم وما يسطرون  (Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis)
”scripta manent verba volant , yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin” (The general person, language of literature. Hlm.150)
            Tuhan mengawali kalamnya yang memukau dengan satu lafadz, “Nun”, kemudian dilanjutkan dengan lafadz Alqalamu, yang sebelumnya didahului dengan huruf qasam “Wawu”(sumpah). Dengan penyematan  huruf wawu merupakan nilai eksentis yang dirahasiakan tuhan betapa qalam, sebagai kinayah dari menulis adalah hal yang diagungkan. Bahkan bisa dikata menulis adalah suatu proses yang berarti dan  penting, sehingga qalam dijadikan salah satu nama surat dalam alquran. Karena dengan tulisan, kita aka menjadi sosok pribadi unggul, berbeda dan selalu dikenal oleh sejarah, layaknya firman Tuhan tersebut.
            Inilah mengapa Claude Levi-Strauss, seorang antropologi prancis, pernah menyatakan  bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan; karena dengan menulis disitu kita BERUSAHA. Mematuk ide, menangkap imajinasi dan inspirasi liar kemudian membungkusnya, menuliskannya menjadi karya yang utuh persembahan dalam perjalanan sejarah.
            Tuhan telah menyediakan serangkaian bahannya, kata, ide dan bahasa. Hanya saja semua ini menjadi tak berarti jika kita tidak merangkainya menjadi kalimat dengan diksi yang indah dan utuh. Tuhan juga menghadirkan ide lewat malamnya yang dingin nan suci sebagai wujud tadabbur, pun juga melalui pagi yang sejuk nan cerah untuk berpikir. Lalu pantaskah kita sebagai insan Ulil Albab masih tidak mau berproses dengan menulis....???
            Ide harus diburu bukan ditunggu, dari itulah tulisan ini ada, mengajarkan bahwa dengan diam semuanya akan bungkam, tetapi dengan tulisan yang ditebar dimana-mana, akan menajadikan ilmu pengetahuan khususnya mengenai islam akan tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Amien.  Lahirlah statement baru bahwa jihad, syahid tak harus berkaitan dengan kematian, tidak perlu lagi tumpahan darah orang muslim berceceran dimana-mana, karena hanya cukup dengan menuangkan ide lawat tulisan sama halnya dengan telah menancapkan gas pertama untuk memberikan pencerahan.
            Berbicara masalah pahala, tentu Allah tak akan pernah meniadakan ganjaran bagi mereka yang telah menyebarkan ilmunya, pahala orang yang mempunyai i’tikad baik akan jauh lebih besar daripada orang yang tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya. Jika kita menulis tentang manfaat orang yang berqurban, maka pahalanya akan menyamai orang yang telah berqurban, subhanallah, maha suci Allah, yang tidak pernah membedakan hambanya dari faktor ekonomi melainkan ketakwaan semata.
HARI RAYA QURBAN: AJAKAN MEMBUNUH SIFAT KEBINATANGAN KITA
            Hari Raya Qurban berkaitan erat dengan ibadah haji yang acara-acara ritualnya berkaitan erat pula dengan Nabi Ibrahim a.s. Beliau adalah seorang nabi yang sangat diagugkan oleh agama-agama samawi, antara lain karena kesediannya mengorbankan putera kesayangannya hanya karena Allah.
            Manusia telah mengenal kurban sejak dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. pada masa nabi ibrahim dan sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.
            Di mesir, misalnya gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi sungai Nil. Sementara di irak, kanaan, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Di Eropa Utara , orang viking yang dulunya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa perang “Odin”.
            Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Disatu pihak ada yang mempertahankan dan di pihak lain ada yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Disinilh ajaran yang dibawa nabi ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu pimpi untuk menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta -  jiwa yang paling berharga disisi seseorang -  bukanlah sesuatu yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.
Tetapi, ini bukan berarti mempertahankan tradisi pengurbanan, karena setelah pisau ditancapkan dan dihujamkan untuk menyemblih sang anak sebagai kurban, tiba-tiba seekor domba dijadikan penggantinya. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa Tuhan sedemikian kasih kepada manusia sehingga kurban manusia tidak diperkenankan.
Dalam kehidupan di abad modern ini, nilai-nilai peristiwa kurban Nabi Ibrahim tersebut sering terlupakan. Masih cukup banyak praktik yang mengarah pada mengurbankan manusia walaupun mencapai tujuan – tujuan yang tidak luhur, bahkan kadang keji dan semata-mata hanya memenuhi ambisi dan kerakusan.
Peristiwa- peristiwa yang dialami Ibrahim yang puncaknya dirayakan sebagai hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, harus mampu mengingatkan bahwa yang dikurbankan tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tidak terkendali,  menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum dan norma-norma apapun. Sifat- sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh, ditiadakan dan dijadikan kurban demi mencapai Qurban (kedekatan) diri kepada Allah SWT. Itu sebabnya Allah mengingatkan:
“Daging dan Darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya, (QS 22:37)
Dengan demikian tidak ada kaitannya antara daging, darah dan qurban (kedekatan kepada Allah). Kalaupun ada, maka ia ditemukan antara lain, dalam rangka “Meringankan beban yang butuh”, “membela orang-orang yang lemah”, serta “mengangkat derajat kemanusiaan”. Bukankah daging itu seharusnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan? Bahkan, bukankah penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap Ismail itu justru bertujuan menyelamatkan manusia dan untuk menerima kasih sayang tuhan? Inilah sebagian nilai yang terkandung pada hari raya kurban. Dengan menjalani hari raya kurban beberapa hari lagi, semoga sifat- sifat kebinatangan yang cenderung negatife dalam diri kita ikut terbunuh bersamaan dengan hewan kurban yang kita sembelih serta dengan teriakan lantang “Allahu Akbar- Allahu Akbar- Allahu Akbar, Laailaaha IllaAllahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahi Alhamd” . Amien, wallahu A’lam bisshowaab.


Afiyatun Hafidh;
Alumni MAK Annuqayah
Dan berstatus santri di PP UII  Putri.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar