Jumat, 25 Januari 2013

Awal Meragukan

Awal Meragukan.

Sunyi dalam ramai
Memahat cerita pada sebongkah kebekuan harap
Sirna semboyan, slogan hangat sang penawar
Tak ada lagi sisa rasa bermakna
Sungguh hari ini berujung pada keterpaksaan alpha
Berkorban untuk mencipta sejuta torehan sejarah abad
Tapi ternyata, kau nafikan adaku dan semagat juangku.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sore itu bersama 5 pendekar KOPATA (kopi tanpa rasa)
Mereka beradu tawa, bergeming hati mendengarnya.
Pekak, rasanya menghirup nafas bngsat perusak bangsa.

Rabiul Awal, Pengalaman Bathin Afiya

Rabi'ul Awal (Pengalaman Bathin Seorang AFIYA....

malam itu semua bersenandung, mengawali malam malam dengan dendang merdu suara para penghuni sorga. kaum adam dan hawa memadu kebersamaan malam dengan memuji sang Nur Ciptaan Allah. Dia seorang laki- laki yang berparas tampan, berbudi pekerti luhur, dan bersikap jujur, betapa sungguh memang pantas jika ia menjadi sumbu pujian. Allahumma Sholli 'Alaa Muhammad........

Tapi malam itu pun banyak yang bercerita. bahwa ada banyak pengalaman pribadi yang dirasakan seiring dengan bulan lahirnya Muhammad Bin Abdullah ini. malam itu pula aku mengabarkan pada dunia,
" Kalau aku terjatuh pada sebuah habitat kehidupan berbeda, KOLAM IKAN LELE"
sungguh mengenaskan, dikala banyak kaum adam, ramainya suara alunan indah itu tak lagi menyadarkanku akan adanya, karena aq tak lagi sanggup menahan malu. disaat aku dalam keadaan santun, ta'dzim pamit mau pulang, rupanya ada salah satu temanq yang tak menyadari bahwa aq dibelakangya, hingga tak terelakkan, aq pun jatuh terpelanting dann tercebur kedalam kolam, dan ironinya hinnga memecahkan pot bunga........

Ironinya lagi " Didepan orang yang kita puja dan kita suka, sungguh malu dan memalukan"
semoga rasa malu dan sakitku menyadarkan kepeduliannya, amien.

Afiya- Fie (Berharap Rabi'ul Awal menjadi Awal Langkah memadu Cinta dengan Habibullah)


Sabtu, 19 Januari 2013

Teroris juga bisa menembaki HATI

 Diskusi dan Bedah Alislamiyah (Jihad bukan Teroris)
Berakhir dengan tumbuhnya cinta.....

Organisasi Santri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan DPPAI UII mengadakan sebuah acara Diskusi dan Bedah Al-islamiyah yang diselenggarakan di Gedung GKU Prof.Sardjito jl.kaliurang KM.14,5 sleman yogyakarta. acara bisa disimpulkan berjalan lancar dan sukses. apalagi kemeriahan penampilan tari saman dari sanggar Al-Fansaa PP UII Putri, Sungguh menakjubkan....
akan tetapi disisi lain kemeriahan itu seakan menjadi tidak terasa bagi seorang gadis yang sering menamakan dirinya sebagai wanita Tangguh, karena kehadiran sang sufisme modern sudah mengganjar dan membayar kelelahannya dari beberapa hari ini." Ia hadir seakan ingin menawarkan obat dari segala dahaga yang aku rasakan" gumamnya. betapa damai kemeja yang ia kenakan, lazuardinya langit seakan menghinggapi jasadnya dan ia titipkan padaku. seandainya bisa jujur, betapa hari itu adalah hari kebahagiaan yang tak akan pernah habis ditelan sejarah.
sore itu aku nyata menatap wajahnya yang penuh kedamaian, mendengar suaranya yang mendamaikan jiwa dan cukup membuatku merasa yakin, bahwa dialah malaikat berwujud manusia yang dikirim Tuhan untukku. ada satu catatan di sore itu, (19 januari 2013) bahwa tak ada lagi keraguan dariku padanya. ada cinta yang nyata tumbuh dan tak kan pernah aku mengizinkannya untuk tumbang. kau seakan seperti teroris yang telah berani menembak hatiku.

                                                                "Sufisme Modern- aku tau kau mengatakan "belum waktunya", tapi aku tak pernah menuntut pada tuhan agar kau yakin padaku, aku hanya meyakinkan-NYA bahwa aku selalu siap menantimu. betapa sungguh kesetiaan ini hanya terlihat pada gadis sepertiku. yang mungkin jarang kau akan menemukannya.andaikan kau bisa membaca catatan hati ini, sungguh terbaca semua isi hati gadis ini. Afiya- Fie

Jumat, 18 Januari 2013

kegamangan hai

Mengemas Rasa....

mengemas rasa menjadi sebuah ruangan hampa tak bermakna. sungguh menjadikan kesempatan cerah tiada nan sirna. tak ubahnya seorang pecundang yang membiarkan gemerlap bintang bersinar tiada guna. layaknya seorang pengecut yang tak pernah berani mengatakan bahwa iya adalah seorang penakut..........
tak paham, apakah untuk kali ini aku masuk kategori pecundang atau bahkan pengecut, karena ketidak beranianku mengekspresikan rasa padanya.
 betapa sungguh tak sesuai dengan daya nalar seharusnya, jika kubuka maka akan dengan kesadaran hati aku pun menutupnya, tapi ironi saat ini, karena bagaimana aku bisa menutupnya jika akupun tak pernah membukanya, sugguh terlalu kau para kaum adam, kaum yang tak pernah mengerti betapa ada seorang hawa yang selalu menanti. menantimu bukan berarti tak ada orang lain yang menantiku, tapi semata-mata aku ingin mengatakan pada Tuhan bahwa aku tak pernah bermain-main dengannya. landasan rasa ini adalah Tuhan yang selalu menebarkan rasa sayang pada semua hambaNYA. sadarkan ia tuhan, bahwa aku selalu ada untuknya, untuk dunia tempat kita kan berpijak dan untuk bahtera rumah tangga yang suatu saat akan kita bina. yakinkan dia Tuhan, bahwa dengan segala kerendahan hati aku menerimanya apa adanya,,,,


                                                                                                                             Afiya, cukup katakan rasamu dan panggil hatiku, sungguh aku akan selalu ada untukmu. Demi Nama Tuhan Aku bersaksi... bahwa aku selalau berdoa jikalau akulah tulang rusukmu. (Hati ini merindumu)

Rabu, 16 Januari 2013

Perjalanan Hati Afiya 2

Perjalanan Hati Afiya 2

siang itu, ditengah teriknya mentari. ada pesan dinding yang menyambangi hatiku. betapa terkejut bukan main ketika ucapan salam mengawali percakapan menjijikkan siang itu. rupanya dia mengatakan ada rumor yang kurang begitu mengenakkan pendengarannya _ tentu bukan pendengaranku. betapa tidak, issu itu adalah ungkapan rasaku bahwa sufisme modern (sebutanku padanya) adalah suara hatiku. dia berharap bahwa rumor itu salah. seperti ungkapan katanya di pesan dinding itu, " Rumor itu salah kan?????". betapa pertanyaan itu menskak mati harapan dan ketergantungan hatiku padanya. jika kujawab iya sungguh aku tak sanggup kehilangan wibawaku sebagai seorang panutan di instansi kita berdua, tapi jika kujawab tidak, maka tentu dengan segala keihlasan hati aku harus mengubur semua impian dan harapanku bersanding di sampingmu. sungguh menyesakkan siang itu.......................

betapa rumit menjalani hidup, ketika semua pintu keberuntungan terasa sudah tertutup. siang itu pula kukatakan padanya " bahwa itu hanya rumor dan issu yang tidak berujung pada kebenaran. meski pada dasarnya hati ini menolak untuk menafikannya. "Sufisme Modernku, sungguh kau tak pernah peka menanggapi issu itu, betapa sungguh dibalik rumor itu ada bayangku yang selalu menatapmu dari jauh. hanya dua prediksiku saat ini "betapa kau sangat ingin menghapuskan namaku dan mendelete rumor itu atau bahkan kau mengharapku juga untuk menjelma wujud nyata disampingmu???? tapi rasanya opsi terakhir itu hanya obsesi seorang wanita tangguh yang selalu dihantui bayang-bayang semu sang Sufisme modern (Ieshfie)

                                                                                                          ntah seperti apa cerita selanjutnya??? harapku pada malaikat, semoga mereka mendoakanku untuk dapat bersanding dengannya. Afiya-Fie.....

Rabu, 09 Januari 2013

The Future of Indonesian State As Like Sophisticated Santri


The Future of Indonesian State As Like Sophisticated Santri
            “Masa depan indonesia adalah santri yang canggih, mulai dari berbagai methodologi, wawasan, riset, peneletian, teknologi dan berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya” mengutip gagasan Drs.Yusdani M,Ag saat menjadi pemateri dalam sebuah diskusi dengan tema “ Indonesia, The Future Country of Muslem”
            Penyelarasan persepsi perlu dilakukan dalam hal memahami siapakah seseorang yang disebut santri tersebut. Santri yang dimaksud dalam diskursus kali ini adalah santri secara culture, yaitu seseorang yang secara Dzahiraan wa Bathinaan mencerminkan prinsip-prinsip islam, bukan hanya sebatas islam dalam KTP.
 Pertama, Seorang santri identik dengan pemahaman secara komprehensif terhadap kitab kuning (Turats/klasik). Sebagaimana dipahami bahwa didalam kitab turats itu penuh dengan berbagai macam perspektif para imam, pakar dan ahli ilmu agama, seperti halnya dalam penggunaan lafadz “ Kamaa Qiila- Nuqila Bi- Qad Dzukira Fii...” dan lain sebagainya. Hal tersebut akan mempengaruhi pola pikir seorang santri untuk lebih terbuka terhadap perbedaan pendapat, aliran serta ajaran yang disampaikan oleh orang lain. Tidak jarang dijumpai seorang santri yang lebih toleran menyikapi berbagai persoalan agama yang dianggap menyeleweng atau tidak sesuai dengan pendalaman agama yang selama ini ditekuni, hal ini tidak lain salah satunya karena dipengaruhi faktor pendalaman kitab turats yang multi perspektif.
            Kedua, Umumnya seorang santri tersebut akan menekuni ilmu agama dalam suatu kesatuan wadah yang dinamakan pesantren. Apakah pesantren? Pesantren adalah pusat belajar tradisional bagi ummat islam, umumnya pula berlokasi di daerah pedesaan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, pesantren tidak hanya ditemukan di pedesaan, melainkan di kota- kota pun juga dijumpai. Pada mulanya menurut Buya Syafiie Maarif, pesantren tidak mempunyai kurikulum terperinci, memberi gelar, atau sertifikat. Akan tetapi tuntutan zaman menjadikan pesantren lebih berkembang dan menelorkan output yang berkompeten. Disamping memahami secara mendalam tentang konsep keagamaan lewat kitab turastnya, output pesantren juga bisa mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dengan berbagai macam methodologi, kekayaan khazanah pemikiran dan penelitian.
            Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa dikatakan masa depan indonesia atau indonesia kedepan adalah santri yang canggih?. Hal ini mengacu kepada beberapa posisi  umat beragama khususnya islam didalam memposisikan dirinya terhadap pemahaman konsep agama dan negara.
Dimanakah Posisi Kita?
            Menurut Fazlur Rahman, ada 3 posisi seseorang dalam memahami kenegaraan dan keagamaan (islam).
Pertama, pemahaman secara Konservatif, yaitu pemahaman konsep kenegaraan yang memadukan antar negara dan agama. Bahkan dalam perakteknya dewasa ini seringkali terdengar issu keinginan mengubah bentuk negara indonesia menjadi negara islam. Teriakan lantang dimana-mana terdengar yaitu dengan mengusup konsep mengganti negara kesatuan menjadi negara ketuhanan. Pendapat seperti ini sering diusung oleh pemuka-pemuka yang menamakan dirinya islam tetapi justru malah ditentang oleh pemuka dan ummat islam yang lain. jika terjadi pertentangan seperti ini maka berarti ada konsep yang salah dan menabrak beberapa kategori atau asas-asas mendasar dalam islam. Seperti halnya ingin mengubah negara indonesia menjadi konsep khalifah.
            Kedua, pemahaman secara Sekuler, yaitu pemahaman konsep kenegaraan yang memisahkan secara keras antara agama (islam) dan negara. Kalangan mereka berpendapat bahwa dalam menjalani hidup bernegara tidak ada campur tangan Tuhan dan Agama didalamnya, melainkan murni hasil pemikiran dan kehendak manusia sendiri. Kuasa penuh berada di tangan manusia mau diapakan negara serta sistemnya.
            Ketiga,adalah pemahaman secara Etis-Substantif, yaitu seseorang yang memahami konsep kenegaraan dengan pemahaman etika dan nilai-nilai mendasar yang dimiliki oleh setiap agama. Aliran yang ketiga ini tidak pernah menganggap bahwa suatu simbol keagamaan menunjukkan esensi dari agama tersebut, sehingga menurut aliran ini tak perlu mengubah suatu tatanan kenegaraan menjadi nama agama yang dianut, melainkan cukup menerapkan nilai-nilai universal dari agamanya maka dengan sendirinya esensi ajaran agama tersebut sudah diamalkan serta dijalankan.
            Jika seseorang memahami suatu konsep agama secara mendalam, maka tentu pola berpikirnya akan mengedepankan esensi dan nilai-nilai universal dari suatu agama tersebut. Layaknya agama islam, kitab suci alquran tidak pernah menyebutkan didalam ayat-ayatnya tentang konsep dan sisitem Negara, melainkan hanya memberikan nilai –nilai universal untuk diterapkan didalam bernegara. Diantaranya adalah nilai-nilai “Al-‘Adalah (keadilan), Al-Musaawa (persamaan), Syuraa (musyawarah) dan lain sebagainya. Jika nilai-nilai ini dijalankan didalam konsep bernegara maka dengan sendirinya Negara tersebut sudah berdimensi islami. Apakah kita akan mengatakan bahwa alquran sebagai pedoman umat islam tidak lengkap dan tidak sempurna karena tidak memberikan suatu kepastian tentang bentuk dan system negara?. Tidak demikian kesimpulannya, melainkan jika alquran menyebutkan salah satu bentuk Negara yang harus diterapkan, di Indonesia umpamanya harus berbentuk kerajaan, maka jika suatu bentuk kerajaan tersebut dianggap sudah tidak relevan, maka berarti alquran sebagai pemberi gagasan pun akan kehilangan eksisitensinya, dan akan dengan mudah orang mengklaim bahwa Alquran adalah buatan manusia dan tidak terpelihara kesuciannya. Padahal Allah sudah berfirman didalamnya, “ Innaa Nahnu nazzalna Adzzikro, Wa Inna lahuu lahafidzun”.
            Bukan seperti halnya dewasa ini, sering kita mendengar semarak semangat keagamaan yang ingin mengubah negara indonesia menjadi negara islam. Mereka melupakan bahwa negara ini penuh dengan berbagai macam golongan, suku, agama dan budaya “Binneka Tunggal Ika”. Sehingga tidak seharusnya jika semua perbedaan ini harus diseragamkan. Karena jika penyeragaman dilakukan, akan banyak terjadi pertentangan serta perseteruan, karena dari masing-masing suku atau keyakinan tersebut memiliki suatu kekayaan atau ciri khas yang tidak mungkin dimiliki oleh beberapa penganut keyakinan lainnya. Tidak bisa suatu penganut agama tertentu ingin memaksakan kehendaknya kepada penganut agama lain yang berbeda. Apalagi didalam islam kita mengenal firman Allah “ Laa Ikrooha Fi- Addin”(tidak ada pemaksaan dalam beragama). Semua sesuai dengan keyakinan masing-masing, karena bagi mereka yang meyakini tentu membenarkan, pun sebaliknya. Lalu dimanakah posisi umat islam seharusnya? Tentu jawabannya adalah posisi Etis –Substantif yang lebih toleran terhadap penganut agama lain. Karena islam adalah agama perdamaian.
            Islam terkenal dengan agama pencetus perdamaian dan paling menjunjung tinggi toleransi, seingga tidak seharusnya jika malah terdengar umat islam melakukan kekerasan dimana-mana. Dengan beberapa contoh kasus diatas, maka diperlukan umat islam yang memahami islam secara komprehensif, tidak sepenggal-sepenggal, apalagi hanya sekedar menyelam tapi taidak basah juga. Orang yang seperti inilah yang terkadang menjadikan citra islam menjadi buruk dan negative di mata agama lain.
            Sehingga solusi yang ditawarkan para cendekiawan islam dan dianggap memberikan perubahan signifikan terhadap kemajuan islam adalah para santri yang canggih. Mengapa demikian? Karena seorang santri yang masih sesuai dengan culture kesantriannya akan memiliki pengetahuan secara mendalam tentang islam, yaitu melalui pemahaman kitab turats yang jauh lebih rinci dan lengkap didalam memaparkan islam. Sehingga tidak dengan mudah membenarkan pendapat serta keyakinan diri sendiri, karena sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa seorang santri sudah terbiasa dengan bahasa kitab yang multi perspektif serta akan mempengaruhi pola pikirnya. Seorang santri tidak hanya cukup dengan pengetahuan kitab turasnya, melainkan juga diberikan pemahaman tentang teknologi, methodology, dan pengetahuan lainnya. Sehingga dengan multitalenta yang dimiliki seorang santri akan menjadi pengusung masa depan islam. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa  The Future of Indonesian State As Like Sophisticated Santri. Karena posisi pemahan santri tentang konsep agama dan Negara tentu adalah Etis-Substantif , yaitu jauh lebih toleran dan menghargai perbedaan. Semoga kita termasuk seorang santri yang memiliki pemahaman agama yang komprehensif, (Bukan berarti harus berdiam di pesantren). Amien.


Afiyatun Hafidh
Santi PP UII, FH’11

Mulai Meresensi Afiya


(Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis)

Oleh              : Afiyatun Hafidh
Judul             : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis          :Rizal Mumazziq Dkk
Penerbit        : Mizan
Tebal             :
Tahun terbit  :
”scripta manent verba volant , yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin” (The general person, language of literature. Hlm.150)
            Tuhan mengawali kalamnya yang memukau dengan satu lafadz, “Nun”, kemudian dilanjutkan dengan lafadz Alqalamu, yang sebelumnya didahului dengan huruf qasam “Wawu”(sumpah). Dengan penyematan  huruf wawu merupakan nilai eksentis yang dirahasiakan tuhan betapa qalam, sebagai kinayah dari menulis adalah hal yang diagungkan. Bahkan bisa dikata menulis adalah suatu proses yang berarti dan  penting, sehingga qalam dijadikan salah satu nama surat dalam alquran. Karena dengan tulisan, kita aka menjadi sosok pribadi unggul, berbeda dan selalu dikenal oleh sejarah, layaknya firman Tuhan tersebut.
            Inilah mengapa Claude Levi-Strauss, seorang antropologi prancis, pernah menyatakan  bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan; karena dengan menulis disitu kita BERUSAHA. Mematuk ide, menangkap imajinasi dan inspirasi liar kemudian membungkusnya, menuliskannya menjadi karya yang utuh persembahan dalam perjalanan sejarah.
            Tuhan telah menyediakan serangkaian bahannya, kata, ide dan bahasa. Hanya saja semua ini menjadi tak berarti jika kita tidak merangkainya menjadi kalimat dengan diksi yang indah dan utuh. Tuhan juga menghadirkan ide lewat malamnya yang dingin nan suci sebagai wujud tadabbur, pun juga melalui pagi yang sejuk nan cerah untuk berpikir. Lalu pantaskah kita sebagai insan Ulil Albab masih tidak mau berproses dengan menulis....???
            Ide harus diburu bukan ditunggu, dari itulah tulisan ini ada, mengajarkan bahwa dengan diam semuanya akan bungkam, tetapi dengan tulisan yang ditebar dimana-mana, akan menajadikan ilmu pengetahuan khususnya mengenai islam akan tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Amien.  Lahirlah statement baru bahwa jihad, syahid tak harus berkaitan dengan kematian, tidak perlu lagi tumpahan darah orang muslim berceceran dimana-mana, karena hanya cukup dengan menuangkan ide lawat tulisan sama halnya dengan telah menancapkan gas pertama untuk memberikan pencerahan.  
             Buku ini juga mengajarkan bahwa menulis tidak hanya mengalir dari kaum priyayi, bangsawan, orang-orang bergengsi, pintar dan gaul, tetapi justru santri- yang konon katanya tidak gaul dan kuper (kurang pergaulan)- telah jauh lebih mantap menancapkan gas dan telah membuktikan bahwa mereka mampu memberi warna sekligus pencerahan dalam dunia kepenulisan. Hal itu luar biasa!!!
            Buku ini berisi tentang kisah para santri dengan lika liku perjalanan serta terjalnya perjuangan mereka didalam memperoleh satu karya “Tulisan”. Sebut saja Ahmad Khotib, seorang santri di daerah madura yang memiliki komitmen serta cita-cit tinggi demi menelorkan sebuah karya. Ia berkomitment untuk menghasilkan dua karya dalm sehari, hingga akhirnya iapun jatuh sakit dan tidak mampu lagi bertahan, akan tetapi dia tetap bersikokoh dengan statement “Berjuang Hingga Berdarah-darah”, bahkan saat ini ia telah mampu mencipta kebanggaan di ranah nasional. Pun dengan para penulis lainnya seperti Rizal Mumazziq, Suhaidi RB, dkk lengkap dengan pengalaman hidupnya masing-masing.
            “Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis” benar-benar menjadi buku inspiratif  bagi para jiwa penulis pemula, dengan berbagai kisah didalamnya, menyadarkan para penulis pemula bahwa siapapun berhak untuk menebarkan ilmu dan ide-ide kreatifnya untuk bangsa, agama serta orang lain. memang butuh perjuangan untuk menjdi orang sukses, tapi ada satu kalimat yang harus di garisbawahi, bahwa tidak pernah ada perjuangan yang berujung pada kesia-siaan. Sudah merupakan suatu keharusan bagi seorang calon pemenang  sukses untuk setia pada proses. Bahkan untuk hari ini dan selanjutanya, kaum bersarung (santri) akan menjadi pelopor perubahan dengan tulisan-tulisan yang akan mereka telorkan, tentu dengan semangat perjuangan dan penuh dobrakan perubahan, dan  menjadikan buku ini menjadi refrensi bahan bacaan. Benar-benar menakjubkan dan memukau.
            Seperti kata Rizal Mumazziq, hanya ada satu cara untu mewujudkan mimpi menjadi nyata, menjadi penebar ilu lewat jasa dan karya, yaitu “ Do It Now!!! Tuliskan semua apa yang ada dalam pikiranmu, jangan pernah menjadi korektor untuk tulisanmu sendiri!!! Selamat menulis.


Afiyatun hafidh.

Selasa, 08 Januari 2013

Berdua jauh lebih baik daripada sendiri


Berdua jauh lebih baik daripada sendiri......
Memang perlu berbagi untuk sekedar meringankan beban hidup. tak kan pernah berarti jika hanya mengunci rapat hidup dalam kesendirian.
Berbagilah maka kau akan rasakan ketenangan.
Afiyatun Hafidh
Mahasiswi FH UII

Subhanallah sekali Alquran itu....


SAINS, Wujud Eksplorasi Alquran
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah,kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan”
 (QS Ar Rahman(33))
            Alquran merupakan suatu pedoman nyata bagi umat islam di dunia. Keabsahan dan kebenarannya tidak perlu diragukan lagi, karena pembenaran lewat bukti  pengeksplorasian muatan isi alquran sangat terlihat di dunia. Mulai dari para ilmuan yang semakin hari membuktikan bahwa alquran memuat segala aspek dari cabang ilmu pengetahuan,  sains, astronomi , hukum dan lain sebagainya. Meski memang hanya secara global alquran menjelaskan tentang berbagai macam ilmu tersebut, tetapi  alquran tetap menjadi  landasan terlengkap yang dimiliki oleh umat islam, bahkan  Secara harfiah Alquranul karim memiliki makna “bacaan yang mencapai puncak  kesempurnaan” . merujuk pada pendapat mufassir M.Quraish Shihab, kemahamuliaan dan kemahasempurnaan bacaan ini tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh  semua orang yang menggunakan “sedikit” ilmu pengetahuannya.
            Berbicara masalah alquran, maka tentu tak ada keraguan didalamnya. Bahkan sudah merupakan suatu keharusan bagi umat islam untuk menginterpretasikannya secara benar. Seperti halnya hadits nabi yang menganjurkan umatnya untuk memikirkan ciptaan Allah, “pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu tak akan mampu mencapainya”, demikian pula dengan alquran, didalamnya banyak termaktub ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan alam, sehingga menguraikan ayat-ayat tersebut sudah sepantasnya untuk menambah keimanan seseorang.
            Menurut hemat penulis, apa yang disabdakan Nabi dan yang difirmankan Tuhan diatas ini memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan manusia. Pencarian ilmu bagi manusia yang menamakan dirinya sebagai umat islam merupakan suatu kewajiban sebagai bentuk eksistensi keberadaannya di alam semesta ini. ilmu pengetahuan dapat memperluas cakrawala dan memperkaya bahan pertimbangan dalam segala sikap dan tindakan. Keluasan wawasan, pandangan serta kekayaan informasi akan membuat seseorang lebih cenderung pada kebenaran dan realita.
            Orang berilmu pahalanya melebihi dari orang yang banyak ibadah. Ilmu manfaatnya tidak terbatas, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi ia membias ke orang lain yang mendengarkan dan membaca tulisannya, layaknya orang bercermin yang membiaskan pantulan cahaya kepada orang yang melihatnya,dengan bias ilmu yang dipancarkan, maka tentulah pantulan cahaya kebaikan dengan energi positif menyebar ke seluruh penjuru dunia.
            Sebaimana dikata oleh beberapa pakar, bahwa ilmu dan pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada orang yang memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Tetapi pahala yang diberikan pada peribadahan seseorang , akan segera berakhir dengan berakhirnya pelaksanaan dan kegiatan ibadah tersebut.
            Alquran sebagai wujud formal dari agama islam sudah menjelaskan tentang ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Sebagaimana disampaikan oleh seorang ilmuan matematika dan fisika dsri mesir, Dr.Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari alquran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul “ A New Astronomical Quranic Method of the Speed C”, Masnour Hassab Enaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem sideral.
            Sesuai dengan penjelasan diatas, ada beberapa ayat Alquran yang bisa dijadikan rujukan dan pedoman bahwa didalam alquran sangat berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan sains, pertama,  “Dialah Allah yang menciptakan Matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan “ (QS. Yunus ayat 5)
Kedua, “Dialah Allah yang menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan masing – masing beredar dalam garis edarnya (QS. Anbiya ayat 33)
Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS Sajadah ayat 5)
            Dari ayat-ayat ini sudah sangat jelas bahwa mengeksplorasi kebesaran Allah lewat Ayat-ayatnya adalah  sebagai wujud peghambaan seorang hamba Allah kepada Tuhannya. Alquran sudah menyediakan point-point penting secara jelas tentang beberapa ketentuan yang bisa secara jelas kita lakukan penelitian untuk membenarkan firman Allah tersebut.
            Sains seharusnya memang dapat diuji dan diargumentasi oleh semua orang tanpa memandang apapun keyakinannya. Semua penganut agama harus memahami bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya. Semua penganut agama harus paham bahwa sinar matahari dapat dimanfaatkan menjadi energi. Karena hal ini memang terbukti lewat pendekatan sains, aka tetapi disini penulis ingin menekankan bahwa sebelum dibenarkan oleh pendekatan sains, Allah lewat firmannya Alquran sudah menjelaskan terlebih dahulu tentang ketentuan ketentuan umum ilmu sains tersebut, maha sempurna Allah lewat firmannya mampu menjawab tantangan global dan memberikan pencerahan pada manusia untuk melakukan pengeksplorasian terhadap ayat-ayatnya yang relevan.
            Sehingga bisa disimpulkan bahwa agama islam memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembngan ilmu pengetahuan, khususnya tentang sains, astronomi dll. Karena ayat-ayat Allah sudah sangat jelas memaparkannya.

Afiyatun Hafidh (11410580)
Mahasiswi fakultas Hukum ‘11