HARI RAYA QURBAN;
AJAKAN MEMBUNUH SIFAT
KEBINATANGAN KITA
لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يىناله
التقوئ منكم كذالك سخرها لكم لتكبروا الله علئ ما هدئكم وبشر المحسنين (الحج)37
Artinya: “Daging (hewan qurban) dan
darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai
kepadanya adalah ketakwaan kamu, demikianlah Allah menundukkannya untukmu agar
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan
sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS:
Alhajj:37)
Prolog
ن والقلم وما
يسطرون (Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis)
”scripta manent verba volant , yang tertulis akan tetap mengabadi,
yang terucap akan berlalu bersama angin” (The general person, language of
literature. Hlm.150)
Tuhan mengawali
kalamnya yang memukau dengan satu lafadz, “Nun”, kemudian dilanjutkan dengan
lafadz Alqalamu, yang sebelumnya didahului dengan huruf qasam “Wawu”(sumpah).
Dengan penyematan huruf wawu merupakan
nilai eksentis yang dirahasiakan tuhan betapa qalam, sebagai kinayah dari
menulis adalah hal yang diagungkan. Bahkan bisa dikata menulis adalah suatu
proses yang berarti dan penting,
sehingga qalam dijadikan salah satu nama surat dalam alquran. Karena dengan
tulisan, kita aka menjadi sosok pribadi unggul, berbeda dan selalu dikenal oleh
sejarah, layaknya firman Tuhan tersebut.
Inilah mengapa
Claude Levi-Strauss, seorang antropologi prancis, pernah menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang
pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk
mengatur masa sekarang dan masa depan; karena dengan menulis disitu kita
BERUSAHA. Mematuk ide, menangkap imajinasi dan inspirasi liar kemudian
membungkusnya, menuliskannya menjadi karya yang utuh persembahan dalam
perjalanan sejarah.
Tuhan telah
menyediakan serangkaian bahannya, kata, ide dan bahasa. Hanya saja semua ini
menjadi tak berarti jika kita tidak merangkainya menjadi kalimat dengan diksi
yang indah dan utuh. Tuhan juga menghadirkan ide lewat malamnya yang dingin nan
suci sebagai wujud tadabbur, pun juga melalui pagi yang sejuk nan cerah untuk
berpikir. Lalu pantaskah kita sebagai insan Ulil Albab masih tidak mau
berproses dengan menulis....???
Ide harus diburu
bukan ditunggu, dari itulah tulisan ini ada, mengajarkan bahwa dengan diam
semuanya akan bungkam, tetapi dengan tulisan yang ditebar dimana-mana, akan
menajadikan ilmu pengetahuan khususnya mengenai islam akan tersebar luas di
seluruh penjuru dunia. Amien. Lahirlah
statement baru bahwa jihad, syahid tak harus berkaitan dengan kematian, tidak
perlu lagi tumpahan darah orang muslim berceceran dimana-mana, karena hanya
cukup dengan menuangkan ide lawat tulisan sama halnya dengan telah menancapkan gas
pertama untuk memberikan pencerahan.
Berbicara masalah
pahala, tentu Allah tak akan pernah meniadakan ganjaran bagi mereka yang telah
menyebarkan ilmunya, pahala orang yang mempunyai i’tikad baik akan jauh lebih
besar daripada orang yang tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya. Jika kita
menulis tentang manfaat orang yang berqurban, maka pahalanya akan menyamai
orang yang telah berqurban, subhanallah, maha suci Allah, yang tidak pernah
membedakan hambanya dari faktor ekonomi melainkan ketakwaan semata.
HARI RAYA QURBAN:
AJAKAN MEMBUNUH SIFAT KEBINATANGAN KITA
Hari Raya Qurban berkaitan erat
dengan ibadah haji yang acara-acara ritualnya berkaitan erat pula dengan Nabi
Ibrahim a.s. Beliau adalah seorang nabi yang sangat diagugkan oleh agama-agama
samawi, antara lain karena kesediannya mengorbankan putera kesayangannya hanya
karena Allah.
Manusia telah mengenal kurban sejak
dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. pada masa nabi ibrahim dan
sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen)
kepada Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.
Di mesir, misalnya gadis tercantik
dipersembahkan kepada Dewi sungai Nil. Sementara di irak, kanaan, bayi-bayi
dipersembahkan kepada Dewa Baal. Di Eropa Utara , orang viking yang dulunya
mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa perang
“Odin”.
Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad
ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan
tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Disatu pihak ada yang
mempertahankan dan di pihak lain ada yang beranggapan bahwa manusia terlalu
mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Disinilh
ajaran yang dibawa nabi ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua
pihak. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu pimpi untuk
menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta - jiwa yang paling berharga disisi seseorang
- bukanlah sesuatu yang berarti jika
Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang yang dapat dinilai tinggi jika
dihadapkan dengan perintah Tuhan.
Tetapi,
ini bukan berarti mempertahankan tradisi pengurbanan, karena setelah pisau
ditancapkan dan dihujamkan untuk menyemblih sang anak sebagai kurban, tiba-tiba
seekor domba dijadikan penggantinya. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa
Tuhan sedemikian kasih kepada manusia sehingga kurban manusia tidak
diperkenankan.
Dalam
kehidupan di abad modern ini, nilai-nilai peristiwa kurban Nabi Ibrahim
tersebut sering terlupakan. Masih cukup banyak praktik yang mengarah pada
mengurbankan manusia walaupun mencapai tujuan – tujuan yang tidak luhur, bahkan
kadang keji dan semata-mata hanya memenuhi ambisi dan kerakusan.
Peristiwa-
peristiwa yang dialami Ibrahim yang puncaknya dirayakan sebagai hari Raya Idul
Adha atau Hari Raya Kurban, harus mampu mengingatkan bahwa yang dikurbankan
tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri
manusia, semacam rakus, ambisi yang tidak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum
dan norma-norma apapun. Sifat- sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh,
ditiadakan dan dijadikan kurban demi mencapai Qurban (kedekatan) diri kepada
Allah SWT. Itu sebabnya Allah mengingatkan:
“Daging
dan Darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi
ketakwaanmulah yang dapat mencapainya, (QS 22:37)
Dengan
demikian tidak ada kaitannya antara daging, darah dan qurban (kedekatan kepada
Allah). Kalaupun ada, maka ia ditemukan antara lain, dalam rangka “Meringankan
beban yang butuh”, “membela orang-orang yang lemah”, serta “mengangkat derajat
kemanusiaan”. Bukankah daging itu seharusnya diberikan kepada mereka yang
membutuhkan? Bahkan, bukankah penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap Ismail itu
justru bertujuan menyelamatkan manusia dan untuk menerima kasih sayang tuhan?
Inilah sebagian nilai yang terkandung pada hari raya kurban. Dengan menjalani
hari raya kurban beberapa hari lagi, semoga sifat- sifat kebinatangan yang
cenderung negatife dalam diri kita ikut terbunuh bersamaan dengan hewan kurban
yang kita sembelih serta dengan teriakan lantang “Allahu Akbar- Allahu
Akbar- Allahu Akbar, Laailaaha IllaAllahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahi
Alhamd” . Amien, wallahu A’lam bisshowaab.
Afiyatun Hafidh;
Alumni MAK Annuqayah
Dan berstatus santri di PP UII
Putri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar