SAINS, Wujud Eksplorasi Alquran
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah,kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan”
(QS Ar Rahman(33))
Alquran merupakan suatu pedoman
nyata bagi umat islam di dunia. Keabsahan dan kebenarannya tidak perlu
diragukan lagi, karena pembenaran lewat bukti
pengeksplorasian muatan isi alquran sangat terlihat di dunia. Mulai dari
para ilmuan yang semakin hari membuktikan bahwa alquran memuat segala aspek
dari cabang ilmu pengetahuan, sains,
astronomi , hukum dan lain sebagainya. Meski memang hanya secara global alquran
menjelaskan tentang berbagai macam ilmu tersebut, tetapi alquran tetap menjadi landasan terlengkap yang dimiliki oleh umat
islam, bahkan Secara harfiah Alquranul
karim memiliki makna “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan” . merujuk pada pendapat
mufassir M.Quraish Shihab, kemahamuliaan dan kemahasempurnaan bacaan ini tidak
hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan “sedikit” ilmu
pengetahuannya.
Berbicara masalah alquran, maka
tentu tak ada keraguan didalamnya. Bahkan sudah merupakan suatu keharusan bagi
umat islam untuk menginterpretasikannya secara benar. Seperti halnya hadits
nabi yang menganjurkan umatnya untuk memikirkan ciptaan Allah, “pikirkanlah
ciptaan Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu tak akan mampu
mencapainya”, demikian pula dengan alquran, didalamnya banyak termaktub
ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan alam, sehingga menguraikan ayat-ayat
tersebut sudah sepantasnya untuk menambah keimanan seseorang.
Menurut hemat penulis, apa yang
disabdakan Nabi dan yang difirmankan Tuhan diatas ini memberikan kesempatan
kepada manusia untuk melakukan pemikiran dan eksplorasi terhadap alam semesta.
Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang
ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan
manusia. Pencarian ilmu bagi manusia yang menamakan dirinya sebagai umat islam
merupakan suatu kewajiban sebagai bentuk eksistensi keberadaannya di alam
semesta ini. ilmu pengetahuan dapat memperluas cakrawala dan memperkaya bahan
pertimbangan dalam segala sikap dan tindakan. Keluasan wawasan, pandangan serta
kekayaan informasi akan membuat seseorang lebih cenderung pada kebenaran dan
realita.
Orang berilmu pahalanya melebihi
dari orang yang banyak ibadah. Ilmu manfaatnya tidak terbatas, bukan hanya bagi
pemiliknya, tetapi ia membias ke orang lain yang mendengarkan dan membaca
tulisannya, layaknya orang bercermin yang membiaskan pantulan cahaya kepada
orang yang melihatnya,dengan bias ilmu yang dipancarkan, maka tentulah pantulan
cahaya kebaikan dengan energi positif menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Sebaimana dikata oleh beberapa
pakar, bahwa ilmu dan pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada
orang yang memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Tetapi pahala
yang diberikan pada peribadahan seseorang , akan segera berakhir dengan
berakhirnya pelaksanaan dan kegiatan ibadah tersebut.
Alquran sebagai wujud formal dari
agama islam sudah menjelaskan tentang ilmu pengetahuan sains dan teknologi.
Sebagaimana disampaikan oleh seorang ilmuan matematika dan fisika dsri mesir,
Dr.Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari alquran yang membuat
ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data
yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul “ A New Astronomical
Quranic Method of the Speed C”, Masnour Hassab Enaby menguraikan secara jelas
dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi
ayat-ayat alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan
sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem sideral.
Sesuai dengan penjelasan diatas, ada
beberapa ayat Alquran yang bisa dijadikan rujukan dan pedoman bahwa didalam
alquran sangat berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan sains, pertama, “Dialah Allah yang menciptakan Matahari
bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat perjalanan bulan itu,
agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan “ (QS. Yunus ayat 5)
Kedua, “Dialah Allah yang menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan
masing – masing beredar dalam garis edarnya (QS. Anbiya ayat 33)
Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu
kembali kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut
perhitunganmu” (QS Sajadah ayat 5)
Dari ayat-ayat ini sudah sangat
jelas bahwa mengeksplorasi kebesaran Allah lewat Ayat-ayatnya adalah sebagai wujud peghambaan seorang hamba Allah
kepada Tuhannya. Alquran sudah menyediakan point-point penting secara jelas
tentang beberapa ketentuan yang bisa secara jelas kita lakukan penelitian untuk
membenarkan firman Allah tersebut.
Sains seharusnya memang dapat diuji
dan diargumentasi oleh semua orang tanpa memandang apapun keyakinannya. Semua
penganut agama harus memahami bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, dan
bukan sebaliknya. Semua penganut agama harus paham bahwa sinar matahari dapat
dimanfaatkan menjadi energi. Karena hal ini memang terbukti lewat pendekatan
sains, aka tetapi disini penulis ingin menekankan bahwa sebelum dibenarkan oleh
pendekatan sains, Allah lewat firmannya Alquran sudah menjelaskan terlebih
dahulu tentang ketentuan ketentuan umum ilmu sains tersebut, maha sempurna
Allah lewat firmannya mampu menjawab tantangan global dan memberikan pencerahan
pada manusia untuk melakukan pengeksplorasian terhadap ayat-ayatnya yang
relevan.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa
agama islam memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembngan ilmu
pengetahuan, khususnya tentang sains, astronomi dll. Karena ayat-ayat Allah
sudah sangat jelas memaparkannya.
Afiyatun Hafidh (11410580)
Mahasiswi fakultas Hukum ‘11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar