Mengemas Rasa....
mengemas rasa menjadi sebuah ruangan hampa tak bermakna. sungguh menjadikan kesempatan cerah tiada nan sirna. tak ubahnya seorang pecundang yang membiarkan gemerlap bintang bersinar tiada guna. layaknya seorang pengecut yang tak pernah berani mengatakan bahwa iya adalah seorang penakut..........
tak paham, apakah untuk kali ini aku masuk kategori pecundang atau bahkan pengecut, karena ketidak beranianku mengekspresikan rasa padanya.
betapa sungguh tak sesuai dengan daya nalar seharusnya, jika kubuka maka akan dengan kesadaran hati aku pun menutupnya, tapi ironi saat ini, karena bagaimana aku bisa menutupnya jika akupun tak pernah membukanya, sugguh terlalu kau para kaum adam, kaum yang tak pernah mengerti betapa ada seorang hawa yang selalu menanti. menantimu bukan berarti tak ada orang lain yang menantiku, tapi semata-mata aku ingin mengatakan pada Tuhan bahwa aku tak pernah bermain-main dengannya. landasan rasa ini adalah Tuhan yang selalu menebarkan rasa sayang pada semua hambaNYA. sadarkan ia tuhan, bahwa aku selalu ada untuknya, untuk dunia tempat kita kan berpijak dan untuk bahtera rumah tangga yang suatu saat akan kita bina. yakinkan dia Tuhan, bahwa dengan segala kerendahan hati aku menerimanya apa adanya,,,,
Afiya, cukup katakan rasamu dan panggil hatiku, sungguh aku akan selalu ada untukmu. Demi Nama Tuhan Aku bersaksi... bahwa aku selalau berdoa jikalau akulah tulang rusukmu. (Hati ini merindumu)
mengemas rasa menjadi sebuah ruangan hampa tak bermakna. sungguh menjadikan kesempatan cerah tiada nan sirna. tak ubahnya seorang pecundang yang membiarkan gemerlap bintang bersinar tiada guna. layaknya seorang pengecut yang tak pernah berani mengatakan bahwa iya adalah seorang penakut..........
tak paham, apakah untuk kali ini aku masuk kategori pecundang atau bahkan pengecut, karena ketidak beranianku mengekspresikan rasa padanya.
betapa sungguh tak sesuai dengan daya nalar seharusnya, jika kubuka maka akan dengan kesadaran hati aku pun menutupnya, tapi ironi saat ini, karena bagaimana aku bisa menutupnya jika akupun tak pernah membukanya, sugguh terlalu kau para kaum adam, kaum yang tak pernah mengerti betapa ada seorang hawa yang selalu menanti. menantimu bukan berarti tak ada orang lain yang menantiku, tapi semata-mata aku ingin mengatakan pada Tuhan bahwa aku tak pernah bermain-main dengannya. landasan rasa ini adalah Tuhan yang selalu menebarkan rasa sayang pada semua hambaNYA. sadarkan ia tuhan, bahwa aku selalu ada untuknya, untuk dunia tempat kita kan berpijak dan untuk bahtera rumah tangga yang suatu saat akan kita bina. yakinkan dia Tuhan, bahwa dengan segala kerendahan hati aku menerimanya apa adanya,,,,
Afiya, cukup katakan rasamu dan panggil hatiku, sungguh aku akan selalu ada untukmu. Demi Nama Tuhan Aku bersaksi... bahwa aku selalau berdoa jikalau akulah tulang rusukmu. (Hati ini merindumu)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSubhanalah skali. Suatu hari dengan nada bercanda saya bertanya. "Gmana? udah baca message fb saya blum?" Lalu dengan terlihat gamang ia menjawab. "messege apa ee, aku g OL ee dr tadi" Awalnya saya percaya. tp ada mimik yang seperti tersembunyi. Seperti bahasa tubuh denial. Lalu kami mulai menggodanya dg terus mnanyakan dan mnyindir dg sporadis. Sambil senyum menyeringai akhirnya ia mengakhiri dg kata yang membungkam kebuntuan. "blum waktunya..." Akhirnya. ada bahasa denial ke-2. hahahi :D
BalasHapustak tau apa yang akan aku katakan padamu, pada orang yang sudah menyampaikan pesan hatiku padanya. walau nanti jawaban yang akan kudapatkan adalah cukup meragukan........
Hapus