Terbalut Kafan berselimut perih
“Membuat sebuah lobang upaya menguburmu adalah impian terbesar
dalam sisa perjalanan hari ini. Membalutmu dengan kain kafan suci ibarat
khalayak ramai mengantarmu pada peraduan terakhir. Memandikanmu dengan air
kembang tujuh rupa, berharap kau menghilang bersama lenyapnya bau bangkai
jasadmu. Memahami bahwa kau tak lagi indah dan hanya pantas bersanding dengan
gundukan tanah membeku itu, maaf jika dirasa keikhlasan terpancar dari wajahku
demi menggiringmu lenyap bersama waktu”.
Aku ingin membunuhmu,
memandikan, membalut serta menguburmu sebelum kau ku sholati dengan kesucian
hati yang tak tertandingi. Meski bukan jaminan dalam setiap malamnya akan
kusampaikan kalimat thoyyibah demi menenangkan adamu. Bukan dendam, tapi aku
hanya ingin membuat tak tenang adamu, karena telah
menjadikanku gelisah dengan sejuta harap tanpa kepastian.
***
Setahun Berjalan nan berlalu...
Perih menjalar menggerogoti setiap relung anggota tubuhku. Meniadakan
pijakan dasarku akan keyakinan bahwa kau layak tuk ku pertahankan. Dulu aku
mampu mendeskripsikan keberadaanmu dengan sangat baik, tapi sekarang tak
sedikitpun aku mampu menjamah adamu dalam setiap kali putaran arah jarum jam.
Seandainya Tuhan memahami akan kehendak hati ini untuk membuatmu layaknya mumi yang tak lagi mampu
mempermainkan hati lainnya, maka tak kan kusiakan waktu itu untuk membuatmu tak
lagi angkuh berlenggak lenggok di panggung kesedihanku ini.
Pengakuan ini yang hendak aku sampaikan pada Tuhan, padamu serta pada lainnya. Tuhan
mengutusmu layaknya para nabi yang diberikan kelebihan olehnya, hanya saja
kekuranganmu karena kau tak disambangi jibril serta Terlalu cepat Tuhan
mendeklarasikan Muhammad sebagai penutup para Nabi. Hingga semua manusia
berujung pada sebuah pemahaman bahwa kau bukanlah Malaikat, Bidadara, Nabi
melainkan Manusia biasa. Tentu bahasa sensasional harus diingat “Sesama Manusia
tak boleh saling menghina..”
Ingin rasanya bertanya pada kedalaman hati setiap orang yang
menamai dirinya sebagai hamba Tuhan, salahkah perasaan yang diutarakan pada
Tuhan akan kehendak hati yang menginginkan seorang sufi dalam hidupnya?,
salahkah kerendahan hati ini hingga harus dibalas dengan kesalihan imannya?,
kekakuanku dalam menjamu Tuhan dalam setiap ibadah mungkin itu jawabnya.
Disekitarmu sudah sering mengingatkanku bahwa porsiku bukanlah
pilihan menumu, jika hal itu diandaikan dengan sesuap nasi. Mungkin kaulah
bagian dari hasil pangan berkualitas yang tak layak disandingkan dengan makanan
pelengkap layaknya gandum yang membuat kau tak lagi menularkan selera. Aku
bukan tak paham, hanya kekebalan hati dari rasa sakit ini yang membuatku tetap
bertahan meski perih mulai menggerogoti...
Sufisme hanya layak disandingkan dengan dengan sufisme lainnya.
Sayangnya aku tak sanggup menjadi Rabiah Al-adawiyah, hingga pagi itu mentari
membagunkanku dari tidur panjang yang penuh dengan mimpi khayalan. Tuhan kenapa
kau biarkan aku bermimpi jika saat terbangun semua akan sirna bersama dengan
munculnya sinar mentari yang menyilaukan semuanya....
Kesalihan amaliah yang kini mengantarku pada sebuah penyesalan
karena aku tak mampu menjamah Tuhan hingga kaupun tak mampu ku sentuh. Bersedih
tentu bukanlah ujung dari kepiluaan yang kurasa selama ini, karena menguburmu
adalah rentetan impian dari sejuata kehendak yang kian memuncak tuk
terealisasi.
Maaf telah mengharap adamu dalam jurang nista bersamaku..
Maaf memimpikanmu dalam noktah merah menjijikkan bagimu..
Maaf telah meminta Tuhan tuk membuatmu mengakuiku disini..
Maaf memimpikanmu dalam noktah merah menjijikkan bagimu..
Maaf telah meminta Tuhan tuk membuatmu mengakuiku disini..
Hari ini menjadi saksi bisu atas sabda
Tuhan yang telah memantapkan hatiku untuk menafikan adamu, telah menjadi
inspirasi untuk lahirnya beberapa tulisan dalam setahun berjalan ini. Terima
kasih dan maafkan kelancangan perempuan tak patut di matamu ini. ini tulisan
terakhirku tentangmu, akan ku kubur dan ku balut sepiku bersama ketiadaan
jasadmu.
#Afiyaa
Hafidh, Zee-One perjalanan hidupku menatapmu.
sudah yakin kah untuk melepas dan menguburnya? jangan sampai keadaan memaksa kau untuk menggali nya lagi..bisa jadi lebih sulit dibanding ketika kau menguburnya.. :D
BalasHapusUntuk saat ini, mungkin sikap demikian yang sebaiknya, layaknya perjalanan panjang yang membutuhkan persinggahan guna sedikit melepaskan lelah. “waktu” menyimpan sejuta rahasia untuk menunda engkau tersenyum.
BalasHapusaku pula bukan sufi dan aku pula bukan seorang yang tahu akan makna dari kata sastra, tapi aku hanya mampu berharap sebagai seorang sahabat, kau tetap bahagia dengan remah-remah rasa yang masih tersisa meski hanya secuil dari kesedihan yang mungkin masih menyisakan luka....
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus