Rabu, 20 Maret 2013

Untukmu sang Pengusik dan Penawar Ketenangan


MALAIKAT TANPA SAYAP
Sore Permai…
MenghadapMU…
Mencurahkan segenap rasa…
Menyampaikan kerumitan hati yang selalu tak dimengerti.
Betapa sungguh tak mudah menjadi pemberani dalam lakon CINTA;
---------Kehabisan Cara,
            Akupun selalu dihantui berjuta pertanyaan. Kau yang kurang peka atau aku yang terlalu ingin dicinta??? Tapi perlahan aku sadar, sang sufisme selalu menggantungkan hatinya pada Tuhan, hingga mungkin tak menyisakan satu ruang kosong untuk seorang kaum hawa yang akan menyempurnakan agamanya.
            Tuhan, ini curahan hatiku, curahan hati yang sejak lama tak tertahankan. Betapa tidak?! Tak sedikitpun ia menoleh dan dan berjalan pelan tuk sekedar melihat adaku di sudut gelap penantian. Yang kumau tak banyak, hanya sekedar ingin menjadi penyempurna dari kesempurnaan yang telah disandangnya. Hanya saja semakin dibelenggu rasa tak pantas karena kesempurnaannya seakan tak sepadan disandingkan dengan segala kekuranganku. Meski selalu ku ingat pesan guru bangsa itu “Hanya mencoba memantaskan diri….”
Malam itu ku coba sambangi tuhan, berharap kau juga sedang bertamu dan bercumbu dengan-NYA, Hingga semakin mudah ku bercerita pada-NYA karena DIA tau siapa aku dan dirimu.
            Yaa Muqallibal Quluub
            wahai sang maha pembolak balik hati
            tetapkanlah hati ini padaMU
            senadakan rasaku dengan rasanya yang penuh teka-teki
            sebilah hati mencoba mengintip sebongkah kekosongan dari hatinya,
            hingga bias ku balut kubangan sepi itu dengan cipta cinta serta deru kasih tak berujung.
Yaa Raab….
sama sekali tak mengenalnya, sebatas berpapas, bertatap yang berujung pada kekaguman rasa atas senyum dan kepiawaian sikapnya, bagiku dia SEMPURNYA…..
Tuhan…
Aq tak pernah ingin membuatmu cemburu dengan kelancanganku membina cinta atas makhlukmu. Hingga doaku,
Jika memang dia dicipta untukku…
Jika dia yang kan menjadi penyempurna agamaku…
Jika dia yang KAU kehendaki telah menyimpan tulang rusukku…
Jika kesufiannya yang kau ridloi tuk membimbingku…
Ku Harapkan, rasaku mampu menggetarkan hatinya, dan dengan segera ia akan menitipkan hatinya padaku…
            Tahukah engkau,
Aku menantimu di pucuk kebisuan
Dalam dekap mimpi dan kenyataan,
Semua terasa membeku, Sapta Rahayu---
Di antara daun dan bunga yang berguguran
Hingga istana pun jadi puing berserakan.
Malu tuk ku akui, bahwa akupun telah menaruh hati padamu, harus kukata, “So Proud of You”
            Kemaren…
mendengarmu bersenandung,
menyuarakan ayat-ayat Tuhan dengan merdu,
Syahdu tercipta seiring dentingan gemercik air sorga,
yang terasa membasahi kegersangan jiwa, dahagaku lengah tiada tilas, berharap kau tau kehendak hati ini agar kau menyiraminya kembali..
            Tuhan..,
Ayat-MU adalah ayat cinta
Pesan-MU adalah pesan cinta
Suratan-MU pun tersirat cinta
Pembacanya adalah sang penebar cinta
pendengarnya jua berharap besar adalah yang dicinta.
Amien.
            Berlandaskan  cintanya pada-MU, serta kealfa-an hatiku setelah engkau, dan tanpa tersirat sedikitpun nafsu mengaguminya, tak terbersit pikiran kotor dalam keinginan bersamanya, tak ku jumpai bisikan syeitan yang mengkontaminasi kesucian rasaku, murni karena-MU, aku ingin menjadikannya seorang imam dalam hidupku. Penuntun yang kan membuat malaikat mempersilahkan kita memasuki sorga atas izin-MU.
            Subhanallah, terasa sempurna sang Adam, hingga tetesan darahnya rela dia alirkan pada salah satu garis keturunannya, “Sang Sufisme Modern”.
            Karena yang kuinginkan adalah cinta suci
            pencapaian tuk memilikinya pun kan ku tempuh dengan kesucian.
menurut apa kata mereka;
“Doa adalah salah satu cara memeluknya dari jauh”
Aku memang tak tahu secara pasti hatinya?
Aku memang tak bias memaknai sikapnya?
Aku memang tak pernah memahami siapa yang dihatinya?
bahkan aku memang tak tak pernah apakah dia “iya” padaku dengan segala diamnya?
            tapi yang pasti aku akan terus mendoakannya, jika memang engkau yang dikirim tuhan untukku- kuharap engkau dibukakan hati tuk melihatku disini, dan menjemputku suatu saat dengan sayap-sayp kesempurnaanmu, untuk sama-sama tertawa menjamu tuhan. Karena aku tahu untuk saat ini katamu “Belum Waktunya”, dan karena aku yakin jua bahwa kaulah MALAIKAT TANPA SAYAP ku.
*Afiya-Hafidh (Sang pendoa tapi bukan pendosa)
                                   

1 komentar:

  1. tumbuh dan berkembangnya benih "kesuka-an" atas kekaguman yang ada didalam rasa bukan karena kita yang menyemai, namuan lalu lintas hukum kausalitas dan sinergisitas yang akan selalu menghubungkan dengan dan atau tanpa sebab.

    BalasHapus